Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin sosok “old soldier” yang nggak pernah benar-benar pensiun dari pengabdian, nama Tubagus Hasanuddin wajib banget masuk radar. Lahir di Majalengka, 11 September 1952, Hasanuddin bukan cuma dikenal sebagai purnawirawan TNI, tapi juga politisi yang konsisten ngawal isu strategis di Senayan.
Perjalanan hidupnya bisa dibilang full paket—dari desa sampai istana negara. Ia mengawali pendidikan dari SD Negeri Talaga, lanjut ke SMP Negeri Telaga, lalu menamatkan SMA Negeri Magelang tahun 1970. Nggak berhenti di situ, Hasanuddin juga “upgrade” kapasitasnya di dunia akademik dengan meraih gelar Doktor Manajemen dari Universitas Pasundan (2013). Jadi, jangan salah—di balik gaya militernya, ada otak strategis yang terus diasah.
Masuk ke dunia militer sejak 1975, Hasanuddin langsung ditempa di berbagai medan tugas. Ia pernah bertugas di Kodam III Siliwangi, jadi instruktur di AKABRI Magelang, hingga dikirim ke wilayah konflik di Kodam I Aceh. Bahkan, ia juga dipercaya dunia internasional sebagai Komandan Sektor Pasukan PBB di Irak (1992–1993)—sebuah pengalaman yang nggak semua prajurit bisa dapat.
Kariernya makin naik saat dipercaya jadi orang dekat lingkar kekuasaan. Hasanuddin pernah jadi ajudan Wapres Try Sutrisno, lanjut ke Wapres dan Presiden BJ Habibie, hingga akhirnya dipercaya sebagai Sekretaris Militer Presiden di era Megawati dan SBY (2001–2005). Ini bukan posisi sembarangan—artinya, tingkat kepercayaan terhadap dirinya sudah di level tinggi banget.
Setelah pensiun dengan pangkat Mayor Jenderal, Hasanuddin nggak memilih santai. Ia justru masuk ke dunia politik lewat PDI Perjuangan. Di DPR RI, ia langsung tancap gas dan dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI (2009–2018)—komisi yang ngebahas pertahanan, luar negeri, dan intelijen. Dengan background militernya, tiap pernyataannya selalu berbasis pengalaman nyata, bukan sekadar teori.
Selain di parlemen, Hasanuddin juga aktif di berbagai organisasi. Ia menjabat sebagai Ketua Umum Paguyuban Warga Banten dan punya peran penting di internal partai sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat (2015–2019). Artinya, pengaruhnya nggak cuma di Senayan, tapi juga kuat di akar rumput.
Soal prestasi, deretan penghargaan yang ia terima juga nggak main-main. Mulai dari Satya Lencana Penugasan PBB, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, sampai Bintang Yudha Dharma Nararya—semua jadi bukti dedikasi panjangnya untuk negara.
Sekarang, Hasanuddin tetap aktif sebagai anggota DPR RI di Komisi I dan juga duduk di Badan Musyawarah DPR. Gayanya masih sama: tegas, lugas, tapi tetap dekat dengan rakyat.
Singkatnya, Tubagus Hasanuddin adalah representasi nyata dari sosok yang nggak pernah berhenti mengabdi. Dari barak militer sampai ruang sidang parlemen, satu hal yang konsisten: komitmennya buat jaga Indonesia tetap kuat dan berdaulat.
