Manusiasenayan.id – Kalau biasanya polisi identik sama patroli dan razia, cerita Aipda Bahruddin Azhari beda vibe. Di Desa Pulau Maringkik, Lombok Timur, NTB, sosok Bhabinkamtibmas ini justru dikenal sebagai “orang rumah” buat warga—yang bukan cuma jaga keamanan, tapi juga ikut turun tangan urusan sehari-hari.
Sejak 2021, Bahruddin mengabdi di pulau kecil dengan dua ribuan penduduk itu. Nggak heran kalau namanya sampai diusulkan masuk Hoegeng Awards 2026. Tapi buat warga, penghargaan itu cuma bonus—karena yang mereka rasain langsung adalah aksi nyatanya.
Rizal, salah satu warga, bilang kalau Bahruddin itu tipe polisi yang nggak nunggu laporan doang. Begitu ada masalah, dia langsung datang dan mendampingi warga. Bahkan kadang warga sendiri yang mampir ke rumahnya buat minta bantuan.
“Orangnya aktif banget, nggak nunggu disuruh,” kata Rizal.
Nggak cuma soal konflik atau keamanan, Bahruddin juga gercep soal info penting. Misalnya, saat ada peringatan cuaca buruk dari BMKG, dia langsung sebarkan info lewat grup WhatsApp warga. Sekalian ngecek kondisi di lapangan.
Hidup di pulau terpencil jelas bukan hal gampang. Untuk sampai ke Maringkik, Bahruddin harus naik perahu dari Tanjung Luar. Perjalanan lautnya sekitar 25 menit, tapi bisa molor sampai 35 menit karena nunggu penumpang lain.
Kendala makin kerasa kalau ada kondisi darurat. Pernah suatu malam, ada warga butuh ambulans. Tanpa pikir panjang, Bahruddin langsung koordinasi dengan bidan dan puskesmas biar bantuan cepat datang. Buat dia, yang penting warga bisa tertolong dulu.
Di luar urusan darurat, dia juga aktif bangun hubungan sosial. Mulai dari penyuluhan, sambang desa, sampai bantu acara warga biar berjalan lancar. Aspirasi dan keluhan masyarakat juga dia tampung, lalu dicarikan solusi bareng-bareng.
Menariknya lagi, Bahruddin juga dorong warga buat manfaatin pekarangan kosong jadi lahan tanam. Sekarang, sudah ada yang mulai nanam pisang dan tanaman lain. Meski begitu, masih ada tantangan—kambing liar yang sering ngerusak tanaman karena belum ada kandang.
Nggak berhenti di situ, dia juga tegas soal lingkungan. Bahruddin melarang warga ambil pasir laut ilegal karena dampaknya bisa merusak ekosistem. Lewat edukasi yang konsisten, jumlah pelanggaran pun mulai menurun.
Yang paling penting, dia juga pernah bantu redam konflik antar kampung. Dengan pendekatan kekeluargaan dan kerja sama tokoh masyarakat, masalah bisa selesai tanpa makin panas.
Di tengah segala keterbatasan, Bahruddin membuktikan satu hal: jadi polisi itu bukan cuma soal seragam, tapi soal hadir dan benar-benar peduli.
