Manusiasenayan.id – Ratusan mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) turun ke jalan, Jumat (24/4/2026) sore, dan bikin suasana Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, langsung berubah total. Mereka menutup akses dari dua arah, bikin arus lalu lintas lumpuh dan pengendara auto cari jalur alternatif.

Aksi ini bukan sekadar demo biasa. Mahasiswa dari berbagai fakultas turun dalam rangka memperingati 30 tahun tragedi April Makassar Berdarah, atau yang akrab disebut Amarah. Buat mereka, ini bukan cuma nostalgia sejarah—ini soal luka lama yang masih terasa sampai sekarang.

Di tengah jalan, massa aksi membakar ban bekas sebagai simbol perlawanan. Asap hitam mengepul, jadi penanda kalau suara mereka nggak bisa dianggap sepele. Satu per satu mahasiswa juga menyampaikan orasi pakai pengeras suara, menyuarakan keresahan sekaligus tuntutan agar tragedi ini nggak dilupakan.

“Mohon maaf kepada pengguna jalan, hari ini kita aksi memperingati Amarah, pelanggaran HAM terhadap senior kita,” teriak salah satu orator dengan nada tegas.

Bukan tanpa alasan mereka memperingati ini tiap tahun. Tragedi Amarah bukan cuma catatan kelam, tapi luka kolektif yang masih membekas di ingatan mahasiswa Makassar, khususnya keluarga besar UMI.

Akibat aksi ini, kemacetan parah nggak bisa dihindari. Banyak pengendara yang akhirnya memutar arah atau cari jalan tikus biar bisa lanjut perjalanan. Di sisi lain, aparat kepolisian juga terlihat mengamankan lokasi. Mereka mengatur lalu lintas dan mengalihkan kendaraan supaya situasi tetap kondusif.

Aksi ini juga jadi bentuk penghormatan untuk tiga mahasiswa UMI yang gugur dalam tragedi 1996: Andi Sultan Iskandar, Muh Tasrif, dan Syaiful Bya. Nama mereka terus dikenang sebagai simbol perjuangan mahasiswa di Makassar.

Flashback ke 1996, semua bermula dari kebijakan kenaikan tarif angkutan kota dari Rp300 ke Rp500 yang dianggap memberatkan rakyat kecil. Mahasiswa dari berbagai kampus langsung bergerak dan melakukan protes besar-besaran.

Puncaknya terjadi pada 24 April 1996. Demo yang awalnya damai berubah jadi chaos setelah bentrokan antara mahasiswa dan aparat. Situasi makin panas ketika aparat bersenjata lengkap masuk ke area kampus UMI. Bentrok itu berujung tragis: tiga mahasiswa meninggal, puluhan luka, dan banyak yang ditangkap.

Sampai hari ini, Amarah masih jadi simbol perlawanan terhadap tindakan represif. Dan lewat aksi ini, mahasiswa UMI ingin memastikan satu hal: sejarah nggak boleh dikubur, apalagi dilupakan.