Manusiasenayan.id – Masalah sampah di Indonesia emang udah kayak lingkaran setan. Numpuk, bau, bikin polusi, terus ujung-ujungnya jadi ancaman lingkungan. Tapi di tengah carut-marut itu, Kota Pekanbaru mulai nunjukin tanda-tanda perubahan. Pemerintah pusat bahkan mulai ngelihat ada progres nyata di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar yang selama ini dikenal penuh tumpukan sampah dan punya risiko lingkungan cukup serius.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, bilang kalau perubahan tata kelola sampah di Pekanbaru mulai keliatan. Menurutnya, praktik open dumping atau pembuangan sampah terbuka udah nggak bisa dipertahankan lagi karena bertentangan dengan arah kebijakan nasional dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN.

Saat melakukan kunjungan kerja ke TPA II Muara Fajar di Kecamatan Rumbai Barat, Hanif ngapresiasi langkah cepat Pemko Pekanbaru yang mulai melakukan penataan di area TPA.

“Saya mengapresiasi langkah cepat Pemko Pekanbaru dalam melakukan penataan awal. Perubahan sudah mulai terlihat,” ujar Hanif.

Nggak cuma berbenah secara fisik, Pekanbaru juga mulai bergerak ke arah pengelolaan sampah modern. Salah satu langkah yang lagi didorong adalah teknologi methane capture, yaitu penangkapan gas metana dari tumpukan sampah. Teknologi ini dianggap penting karena gas metana punya efek pemanasan yang jauh lebih berbahaya dibanding karbon dioksida.

Menariknya lagi, gas itu nantinya nggak cuma dibuang begitu aja. Pemerintah lagi nyiapin skema supaya gas metana bisa diubah jadi sumber energi alternatif yang punya nilai ekonomi.

Hanif menegaskan kalau pemerintah pusat siap mendukung penuh program tersebut, asalkan penerapannya sesuai standar teknis yang ketat. Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan pembukaan sel baru di TPA Muara Fajar supaya pengelolaan sampah bisa lebih optimal sambil menunggu dokumen lingkungan selesai diproses.

Di sisi lain, Pemko Pekanbaru juga mulai membangun beberapa waste station sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu. Konsepnya bukan cuma buang sampah lalu selesai, tapi bagaimana sampah bisa dipilah sejak awal agar lebih mudah diolah.

Hanif bahkan menekankan kalau keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah.

“Tanpa pemilahan, penyelesaian persoalan sampah akan sulit dicapai. Ini menjadi fondasi utama,” tegasnya.

Yang bikin proyek ini makin serius, pemerintah juga lagi memproses proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk kawasan Pekanbaru Raya. Proyek ini nantinya bakal melibatkan beberapa daerah seperti Siak, Kampar, Pelalawan, dan Bengkalis.

Fasilitas itu dirancang mampu mengolah hingga 2.000 ton sampah per hari dan bakal dibangun di Kabupaten Kampar. Targetnya jelas: menghentikan praktik open dumping sekaligus mengubah sampah jadi energi ramah lingkungan.

Wali Kota Agung Nugroho juga bilang kalau pihaknya sudah membuka peluang kerja sama dengan PLN untuk pemanfaatan energi dari sampah. Kalau proyek ini jalan, bukan cuma lingkungan yang diuntungkan, tapi juga bisa jadi sumber pemasukan baru buat daerah.