Manusiasenayan.id – Sekarang banyak orang berangkat haji bukan cuma buat ibadah, tapi juga sekalian dokumentasiin momen buat media sosial. Mulai dari bikin vlog, update story, sampai ngonten tiap aktivitas di Tanah Suci. Tapi ternyata, nggak semua hal yang dianggap normal di Indonesia aman dilakukan di Arab Saudi.
Belakangan ini, jagat media sosial rame gara-gara viral video seorang jemaah asal Indonesia yang diamankan aparat keamanan di Madinah. Penyebabnya diduga karena merekam perempuan Arab tanpa izin. Kasus itu langsung bikin banyak pihak angkat bicara, termasuk Komisi VIII DPR RI.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Lisda Hendrajoni, bilang kejadian kayak gini nggak boleh dianggap sepele. Menurut dia, ini jadi alarm kalau pembekalan buat jemaah Indonesia masih kurang lengkap.
Selama ini, manasik haji kebanyakan fokus ngajarin teknis ibadah. Mulai dari tata cara tawaf, lempar jumrah, sampai urusan keberangkatan. Padahal, pemahaman soal budaya, aturan sosial, sampai hukum di Arab Saudi juga penting banget buat dipelajari.
“Masih banyak jemaah kita yang belum memahami secara utuh aturan sosial dan budaya di Arab Saudi. Hal-hal yang mungkin dianggap biasa di Indonesia, bisa menjadi persoalan hukum di sana,” ujar Lisda.
Nah, menurut DPR, materi manasik sekarang udah waktunya di-upgrade. Bukan cuma ngajarin ibadah, tapi juga kasih pemahaman soal etika sosial. Salah satunya ya soal larangan ngerekam atau motret orang tanpa izin.
Soalnya di Arab Saudi, urusan privasi itu sensitif banget, apalagi kalau menyangkut perempuan. Jadi jangan heran kalau tindakan yang niatnya cuma buat konten malah bisa bikin berurusan sama aparat.
Lisda juga nyinggung kebiasaan jemaah sekarang yang makin aktif pegang HP selama ibadah. Banyak yang pengen semua momen masuk feed atau story, tapi nggak semuanya ngerti batasan yang berlaku di sana.
“Jangan sampai niat mengabadikan momen justru berakhir menjadi persoalan hukum. Ini yang harus benar-benar dipahami oleh jemaah kita sebelum berangkat,” katanya.
Karena itu, Komisi VIII DPR RI minta petugas haji, pembimbing ibadah, sampai ketua kloter lebih aktif ngingetin jemaah soal aturan dan budaya Arab Saudi. Jangan cuma sibuk ngurus teknis perjalanan, tapi juga bantu jemaah ngerti apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan selama di sana.
DPR juga ngingetin supaya jemaah Indonesia lebih bijak pakai HP selama ibadah. Jangan asal rekam orang, terutama perempuan atau aparat keamanan setempat, kalau nggak mau kena masalah.
Buat Lisda, haji itu bukan cuma soal ritual agama. Tapi juga soal gimana cara orang Indonesia nunjukin sikap di depan dunia internasional.
“Haji bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga bagaimana kita menunjukkan akhlak, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap aturan negara lain,” tutupnya.
