Manusiasenayan.id – Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI) mulai tancap gas buat ngawal berbagai kebijakan yang lebih berpihak ke perempuan dan anak. Lewat Forum KPPRI bertema Women in Parliament: From Representation to Policy Transformation yang digelar di Jakarta, Kamis (21/5/2026), para legislator perempuan sepakat kalau perempuan nggak boleh cuma hadir sebagai pelengkap parlemen, tapi juga harus jadi motor perubahan kebijakan.
Ketua Penyelenggara Forum KPPRI, Amelia Anggraini, bilang forum ini jadi titik awal buat nyusun agenda advokasi selama satu tahun ke depan. KPPRI mengajak banyak pihak mulai dari NGO, organisasi internasional, aktivis perempuan, sampai stakeholder lain buat duduk bareng ngebahas isu-isu strategis yang selama ini masih jadi PR besar di Indonesia.
“Goals-nya jelas, kita mau mengawal kebijakan yang benar-benar berpihak pada perempuan dan anak,” kata Amelia.
Menurutnya, hasil diskusi itu nantinya bakal dibawa dan diperjuangkan di masing-masing komisi DPR sesuai bidang tugas anggota parlemen perempuan. Jadi bukan cuma forum formalitas, tapi langsung diarahkan jadi gerakan nyata di parlemen.
Ada beberapa isu yang jadi fokus utama KPPRI. Mulai dari implementasi Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT), pelaksanaan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), advokasi kasus kekerasan seksual, isu tanah adat, sampai dorongan peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen.
Amelia menegaskan, KPPRI juga bakal mendorong percepatan aturan turunan UU PPRT supaya implementasinya nggak mandek di atas kertas. Menurutnya, perlindungan pekerja rumah tangga harus benar-benar terasa manfaatnya buat masyarakat.
Selain itu, KPPRI juga pasang target besar soal keterwakilan perempuan di parlemen. Mereka ingin jumlah perempuan di DPR minimal bisa mencapai 30 persen, bahkan kalau bisa lebih.
“Kalau bisa di atas 30 persen, tentu lebih baik,” ujar Amelia.
Buat mencapai target itu, KPPRI sudah nyiapin pendidikan politik bagi perempuan menjelang Pemilu dan Pileg mendatang. Langkah ini dianggap penting supaya makin banyak perempuan berani masuk dunia politik dan ikut menentukan arah kebijakan negara.
Amelia juga mengapresiasi tren keterwakilan perempuan di parlemen yang terus naik di setiap periode. Meski begitu, menurutnya angka saat ini masih belum ideal dan perlu terus didorong.
Ia berharap partai politik nggak cuma kasih ruang, tapi juga aktif memperkuat pendidikan politik perempuan agar suara perempuan makin kuat terdengar di parlemen.
Nggak cuma ngomongin pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan perlindungan anak, KPPRI juga mulai menyoroti isu global seperti geopolitik dan keamanan dunia. Amelia menilai perempuan harus punya ruang lebih besar dalam isu peace and security karena perempuan juga punya peran penting dalam menjaga perdamaian dunia.
Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam isu perdamaian bukan cuma penting buat Indonesia, tapi juga jadi kontribusi nyata Indonesia dalam komunitas global.
“Perempuan harus lebih bersuara dalam isu perdamaian dunia,” tandasnya.
