Manusiasenayan.id – Banyak yang ngira organisasi itu cuma tempat kumpul, bikin proposal, atau debat sampai tengah malam. Padahal, dari ruang-ruang organisasi itu juga lahir orang-orang yang sekarang ikut bikin kebijakan buat Indonesia. Contohnya Tamsil Linrung dari Sulawesi Selatan dan AA LaNyalla Mahmud Mattalitti dari Jawa Timur.

Meski jalur aktivismenya beda, dua tokoh ini punya satu benang merah: sama-sama pernah aktif berorganisasi sebelum akhirnya duduk sebagai anggota DPD RI periode 2024–2029. Jadi, kalau ada yang bilang organisasi nggak ada gunanya, mungkin mereka belum lihat perjalanan dua senator ini.

Tamsil Linrung: Dari Ketua Organisasi Kampus, Naik Kelas Jadi Wakil Ketua DPD RI

Kalau ada contoh nyata bahwa organisasi kampus bisa jadi “sekolah kepemimpinan”, Tamsil Linrung salah satunya.

Jauh sebelum dikenal sebagai Wakil Ketua DPD RI Periode 2024–2029, Tamsil udah sibuk ngurus organisasi sejak kuliah di IKIP Ujung Pandang (sekarang Universitas Negeri Makassar).

Karier organisasinya dimulai saat dipercaya menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa FPIPS IKIP Ujung Pandang. Dari situ, ia belajar gimana caranya menyampaikan aspirasi, menyatukan banyak kepala, sampai mengambil keputusan yang nggak selalu mudah.

Belum berhenti di situ, Tamsil juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum HMI Cabang Makassar, lalu dipercaya menjadi Ketua Umum PB HMI MPO. Posisi ini membuat namanya semakin dikenal di tingkat nasional karena aktif membangun komunikasi dan kepemimpinan di lingkungan organisasi.

Nah, pengalaman itu ternyata nggak berhenti sebagai cerita masa kuliah. Justru jadi modal besar saat ia terjun ke dunia politik. Sekarang, Tamsil dipercaya menjadi Wakil Ketua DPD RI, ikut mengawal aspirasi daerah sekaligus terlibat dalam berbagai pembahasan kebijakan nasional.

Singkatnya, dari yang dulu sering rapat bahas mahasiswa, sekarang rapatnya bahas kepentingan daerah se-Indonesia.

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti: Nggak Lewat Organisasi Kampus, Tapi Aktif Banget di Dunia Kepemudaan

Kalau Tamsil lahir dari dunia aktivis mahasiswa, cerita AA LaNyalla Mahmud Mattalitti agak berbeda.

LaNyalla lebih dikenal sebagai aktivis organisasi kepemudaan, sosial, dan kemasyarakatan. Sebelum kembali duduk sebagai Senator DPD RI dari Jawa Timur Periode 2024–2029, ia sudah lama aktif membangun jaringan dengan berbagai organisasi, komunitas, hingga alumni perguruan tinggi.

Selain aktif berorganisasi, LaNyalla juga lama berkecimpung di dunia usaha. Pengalaman itu bikin ia banyak bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat, mulai dari ekonomi, dunia usaha, sampai pembangunan daerah.

Dari situlah jalannya menuju Senayan terbuka. Bahkan sebelum periode sekarang, LaNyalla juga pernah dipercaya menjadi Ketua DPD RI, sebelum kembali terpilih sebagai senator.

Meski bukan aktivis mahasiswa seperti Tamsil, kiprahnya membuktikan kalau belajar memimpin nggak cuma bisa didapat dari bangku kuliah. Organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan juga bisa jadi tempat menempa kemampuan komunikasi, kepemimpinan, sampai keberanian mengambil keputusan.

Pada akhirnya, perjalanan dua senator ini ngasih satu pelajaran sederhana. Aktivisme itu bukan cuma soal demo atau rapat sampai larut malam. Lebih dari itu, aktivisme adalah proses belajar memimpin, mendengar banyak suara, dan berani memperjuangkan kepentingan orang banyak.

Siapa tahu, ketua organisasi di kampus atau komunitasmu hari ini… beberapa tahun lagi malah ikut rapat di Senayan.