Manusiasenayan.id – Buat banyak anak sekolah, drama pagi biasanya cuma soal kesiangan, ban bocor, atau kena macet. Tapi buat sejumlah siswa SMP Negeri Satu Atap (Satap) Batui 5, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, perjalanan ke sekolah jauh lebih ekstrem. Mereka harus menyeberangi sungai setiap hari demi bisa ikut pelajaran. Dan yang bikin miris, sungai itu bisa berubah jadi arus deras kapan saja kalau hujan turun.

Kondisi ini bukan cerita baru. Sudah bertahun-tahun para siswa menjalani rutinitas yang sama karena belum ada jembatan atau akses penyeberangan yang layak untuk menghubungkan kampung mereka dengan sekolah.

Tenaga pendidik SMP Negeri Satap Batui 5, Jumrah, mengatakan para siswanya memang tidak punya pilihan lain. Mau berangkat sekolah atau pulang ke rumah, mereka tetap harus melewati sungai tersebut.

Masalahnya, cuaca sering kali bikin situasi berubah drastis. Begitu hujan mengguyur, debit air langsung naik dan sungai berubah jadi jalur yang berbahaya. Akibatnya, banyak siswa terpaksa bolos bukan karena malas, tapi karena memang tidak mungkin menyeberang dengan aman.

Guru-guru pun akhirnya memilih memberi toleransi kepada siswa yang terlambat atau tidak hadir. Sebab mereka paham, yang dihadapi anak-anak ini bukan sekadar genangan air, tapi arus sungai yang bisa mengancam keselamatan.

Bahkan, persoalan ini pernah mengacaukan pelaksanaan ujian. Sejumlah siswa tidak bisa datang tepat waktu karena akses menuju sekolah terputus akibat banjir sungai.

Yang bikin prihatin, sampai sekarang belum ada solusi nyata. Tidak ada jembatan, tidak ada rakit, bahkan fasilitas penyeberangan sederhana pun belum tersedia. Saat air sedang surut, siswa masih bisa melintas. Tapi ketika hujan turun deras, perjalanan ke sekolah berubah jadi aksi adu nyali.

Pihak sekolah pun berusaha meminimalkan risiko. Kalau hujan mulai deras saat jam pelajaran masih berlangsung, guru langsung mengambil keputusan untuk memulangkan siswa lebih cepat. Tujuannya sederhana, supaya mereka bisa menyeberang sebelum air sungai semakin tinggi.

Bahkan para guru ikut mengawal siswa sampai ke bibir sungai. Di seberang, para orang tua sudah bersiaga menunggu anak-anak mereka agar bisa pulang dengan selamat. Pemandangan seperti ini bukan kejadian langka, melainkan rutinitas yang terus berulang setiap musim hujan.

Menurut Jumrah, kondisi tersebut sudah berlangsung bahkan sebelum dirinya mengajar di sekolah itu. Artinya, para alumni SMP Negeri Satap Batui 5 juga pernah mengalami perjuangan yang sama. Generasi berganti, tapi persoalannya masih tetap itu-itu saja.

Padahal, pendidikan seharusnya membuka jalan menuju masa depan, bukan malah membuat anak-anak harus mempertaruhkan nyawa setiap hari.

Karena itu, Jumrah berharap pemerintah segera membangun jembatan atau menyediakan akses penyeberangan yang aman. Sebab yang dibutuhkan para siswa sebenarnya sederhana: mereka cuma ingin bisa berangkat sekolah tanpa rasa takut, tanpa harus melawan derasnya arus sungai demi mengejar cita-cita.