Manusiasenayan.id – Di tengah riuhnya politik nasional yang kadang berasa kayak timeline penuh debat nggak kelar, nama Azhari Cage muncul dengan vibe yang beda—lebih “lapangan”, lebih relate sama suara rakyat.

Lahir di Panton, Aceh, Azhari Cage, S.IP (12 Januari 1976) tumbuh dari realitas daerah yang punya sejarah panjang soal konflik dan perdamaian. Dan mungkin itu juga yang ngebentuk cara dia melihat politik: bukan sekadar permainan elite, tapi ruang perjuangan yang real.

Kalau lo bayangin senator cuma duduk rapi di Senayan, Azhari jelas bukan tipikal itu. Sebagai anggota DPD RI dapil Aceh, dia lebih sering tampil sebagai “corong” keresahan warga. Buat dia, kursi itu bukan simbol kekuasaan, tapi alat buat nge-push isu daerah biar kedengeran di pusat.

Track record-nya juga nggak kaleng-kaleng. Sebelum ke level nasional, dia udah kenyang pengalaman di legislatif daerah. Dia pernah jadi Ketua Komisi 1 DPR Aceh (2014–2019) dan juga Ketua Komisi C DPRK Aceh Utara (2014–2019)—dua posisi strategis yang bikin dia paham betul dinamika kebijakan dari level bawah sampai atas.

Nggak berhenti di situ, Azhari juga sempat jadi Ketua Badan Reintegrasi Aceh (2021–2022). Ini bukan jabatan biasa, karena lembaga ini punya peran penting dalam proses pasca konflik. Artinya, dia bukan cuma ngomong soal damai—tapi juga ikut ngerawat prosesnya.

Gaya komunikasinya? Straight to the point. Kayak anak tongkrongan yang nggak suka muter-muter. Waktu ada wacana sensitif kayak pembangunan batalyon militer di Aceh, dia langsung speak up. Bukan asal kritik, tapi dengan perspektif yang rooted dari sejarah Aceh itu sendiri.

Di luar politik, sisi lain Azhari juga cukup aktif. Dia pernah jadi Ketua Pertina Aceh (2015–2023), terlibat di KONI sebagai Wakil Bendahara II (2020–2022), sampai sekarang menjabat sebagai Ketua Umum IKA Universitas Malikussaleh (2024–2028). Ini nunjukin kalau dia nggak cuma fokus di politik, tapi juga di pembinaan generasi dan komunitas.

Agamanya Islam, dan identitas Aceh-nya kental banget dalam cara dia bersikap dan mengambil posisi.

Kalau ditarik benang merahnya, Azhari Cage adalah tipe politisi yang nggak main aman. Dia lebih milih jadi vokal, bahkan kalau itu berarti harus berseberangan dengan arus.

Bahasanya anak tongkrongan: “ini orang nggak cuma ngomong, tapi ngerti konteks.”

Di tengah politik yang sering terasa jauh dari rakyat, figur kayak Azhari jadi semacam reminder—kalau politik masih bisa punya rasa, punya keberanian, dan yang paling penting: tetap berpihak.