ManusiaSenayan.id Kalau denger cerita “anak petani, dulu kuli bangunan, sekarang duduk di DPR”, kedengarannya kayak caption motivasi di IG. Bedanya, kali ini bukan quotes random, tapi beneran orangnya ada: H. Slamet Ariyadi, anggota DPR RI dari PAN, asal Madura.

Dia lahir dan tumbuh di Sampang sebagai anak petani biasa, bukan anak pejabat, bukan juga lahir dari keluarga penuh privilese. Tapi pelan-pelan, dari ngangkat semen sampai ngangkat aspirasi, jalan hidupnya kebentuk sendiri.

Anak Kampung yang Nggak Mau Cuma “Ya Udah”

Masa kecil Slamet ya standar anak desa: sekolah di SD kampung, lanjut ke SMPN 1 Robatal, lalu SMA di Nazhatut Thullab Sampang. Lingkungannya sawah, tanah, dan cerita soal panen yang kadang bagus, kadang zonk.

Di tengah realita itu, dia punya satu hal yang bikin jalurnya beda: ngotot pengin kuliah. Bukan sekadar biar keren, tapi karena dia ngerasa, kalau mau nasib berubah, jalur belajarnya juga harus naik kelas.

Dari situ dia berlabuh ke Universitas Trunojoyo Madura (UTM), ambil Psikologi. Bukan berhenti di situ, setelah jalan hidupnya agak stabil, dia lanjut S2 Ilmu Politik di Universitas Nasional, Jakarta. Jadi dari awal, arah hidupnya pelan-pelan geser ke dunia kebijakan dan politik.

Nyambi Kuli Bangunan Demi Bisa Kuliah

Ini bagian yang paling “pedes tapi jujur” dari hidup Slamet.

Buat banyak orang, kuliah artinya kosan, tongkrongan, dan tugas numpuk. Buat Slamet, kuliah artinya bagi waktu antara kampus dan proyek bangunan. Buat bisa tetep kuliah, dia jadi kuli bangunan sekitar 2,5 tahun.

Pagi sampai sore kerja di proyek: angkat pasir, semen, batu bata. Malam baru mikir tugas dan kuliah. Nggak heran masa studinya jadi agak molor. Tapi dari fase itu, dia dapat hal yang nggak bakal tertulis di ijazah:
paham rasanya hidup sebagai pekerja harian, yang capeknya kebangetan tapi sering nggak kelihatan di data.

Di titik ini, tagline “dari kuli bangunan ke Senayan” bukan sekadar gimmick, tapi emang real story.

Bangun Warung, Bangun Masa Depan

Setelah cukup lama hidup dari upah harian, Slamet nggak mau stuck di situ. Dia naik satu level: buka warung lesehan. Menunya sederhana, tempatnya juga nggak fancy—tapi dari situ pelan-pelan dia mulai punya napas finansial.

Yang lucu, warung ini bukan cuma jadi sumber cuan, tapi juga sumber cinta. Perempuan yang sekarang jadi istrinya dulu kerja di warung itu. Dari tempat kecil beralas tikar, mereka mulai ngerancang hidup bareng.

Jadi sebelum jadi “Yang Terhormat” di Senayan, dia sempat jadi abang warung dulu. Kariernya literally naik dari lantai keramik, bukan dari karpet merah.

Dari Aktivis Kampus ke Aktivis Parlemen

Di kampus, Slamet bukan tipe mahasiswa “datang–absen–pulang”. Dia aktif di organisasi, pernah jadi Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) UTM dan aktif di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Habis dari kampus, energinya nggak berhenti. Dia gabung di Gerakan Pemuda Sampang, lalu masuk ke Barisan Muda PAN (BM PAN) dan sempat jadi sekretaris jenderal. Dari sini, pelan-pelan jalurnya ketemu sama politik formal.

Buat dia, politik bukan cuma soal rebutan kursi, tapi upgrade dari demo di jalan jadi debat di ruang rapat. Isunya sama: soal keadilan, soal rakyat kecil, tapi sekarang dengan akses yang lebih gede.

Kursi DPR di Usia Muda

Tahun 2019, Slamet maju sebagai calon anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN) untuk Dapil Jawa Timur XI (Madura). Dari anak petani yang pernah jadi kuli, sekarang dia beneran ikut tarung di level nasional.

Hasilnya? Tem bus ke Senayan.
Dan bukan cuma sekali. Di Pemilu berikutnya, dia terpilih lagi untuk periode 2024–2029.

Di periode pertama, dia ditempatkan di Komisi IV, yang ngurus pertanian dan lingkungan hidup—pas banget sama akar hidupnya sebagai anak petani dan wakil daerah agraris. Di periode berikutnya, dia pindah ke Komisi I, yang bahas pertahanan, hubungan luar negeri, sampai urusan komunikasi dan intelijen.

Spektrum isu yang dia pegang makin luas, tapi “lokasi hati”-nya tetap: Madura dan rakyat kecil.

Ngomongin Tembakau Bukan Cuma dari Atas Kertas

Sebagai wakil Madura, salah satu isu yang paling sering dia gas adalah nasib petani tembakau. Buat banyak orang di luar sana, tembakau cuma identik sama rokok. Tapi buat Madura, tembakau itu nafkah.

Slamet sering ngangkat soal harga jual yang nggak sebanding sama biaya produksi, posisi tawar petani yang lemah, dan dominasi tengkulak atau pabrikan. Di forum-forum resmi, dia dorong supaya regulasi tembakau—termasuk wacana RUU Tembakau—nggak cuma ngelihat sisi industri atau kampanye kesehatan, tapi juga ngelibatin serius kepentingan petani.

Ini bukan cuma angle politisi cari simpati.
Buat dia, ini kayak pulang ke rumah:
dari sawah bapaknya ke ruang rapat DPR.

Suara Buat Ojol dan Pekerja Aplikasi

Menariknya, fokus Slamet nggak berhenti di petani. Dia juga cukup vokal soal driver ojek online dan pekerja gig economy.

Banyak driver ojol selama ini dipanggil “mitra”, tapi diperlakukannya kayak buruh tanpa perlindungan jelas. Dalam berbagai forum aspirasi, Slamet dorong regulasi yang lebih fair: status kerja yang lebih tegas, tarif yang manusiawi, dan akses ke jaminan sosial.

Kalau di-flashback, ini relate sama perjalanan hidupnya sendiri. Dulu dia di proyek bangunan, kerja fisik dibayar harian. Sekarang, dia ngasih suara buat mereka yang hidup dari tiap orderan di aplikasi.

Dari Madura ke Jaringan Nasional

Nggak berhenti di DPR, pada 2025 Slamet juga terpilih sebagai Ketua Umum PB IKA PMII. Artinya, jejaringnya sekarang bukan cuma di partai dan parlemen, tapi juga di komunitas alumni aktivis kampus di seluruh Indonesia.

Buat orang yang ngikutin pergerakan, ini tanda kalau karier politiknya masih panjang banget. Dari BEM, PMII, DPR, sampai ormas alumni, jalur pengaruhnya makin lebar. Tapi di tengah semua itu, identitas yang dia bawa tetap sama: anak petani dari Madura.

Bahan Bakar Buat Anak Muda dari Daerah

Cerita Slamet Ariyadi bukan cerita orang yang hidupnya manis dari awal. Ada fase kuli bangunan, ada fase warung lesehan, ada fase kuliah molor. Tapi justru di situ letak poinnya.

Buat lo yang mungkin ngerasa:
“Gue cuma anak kampung”,
“Orang tua gue petani, bukan siapa-siapa”,
atau
“Gue pernah kerja kasar, kayaknya mimpi gue nggak akan sejauh itu”—

kisah Slamet basically bilang:
peluang mungkin nggak adil, tapi mimpi tetap boleh jauh.

Dia bukan bukti bahwa semua orang pasti bisa jadi anggota DPR. Tapi dia bukti bahwa asal-usul nggak harus jadi tembok. Dari Sampang ke Senayan, dari proyek bangunan ke ruang rapat parlemen, jalannya memang panjang dan nggak instan. Tapi ada satu kursi di DPR yang sekarang diisi seseorang yang tahu rasanya kerja dari pagi sampai badan pegal semua.

Di depan namanya sekarang orang bisa nulis:
“Dari kuli bangunan ke Senayan.”

Dan di belakangnya, ada identitas yang nggak pernah dia lepas:
“Anak petani Madura.”