Manusiasenayan.id – Lagi serius tapi tetap santai, Budi Gunadi Sadikin akhirnya buka-bukaan soal data penerima bantuan BPJS yang ternyata masih jauh dari kata rapi. Dalam rapat bareng Komisi IX DPR RI di Senayan, doi bilang ada anomali setelah data mulai ditata ulang dan disentralisasi oleh BPS.

Menurut Budi, pas data dari berbagai kementerian kayak Kemendagri, Kemensos, dan Kemenkes digabung, kelihatan banget ada yang janggal. Harusnya bantuan BPJS ini fokus ke masyarakat miskin, tapi realitanya? Nggak sepenuhnya begitu.

“Faktanya, ada juga sekitar 10 persen orang terkaya yang ikut kecipratan bantuan,” kata Budi. Nah loh.

Salah satu contoh paling kebuka ada di skema Penerima Bantuan Iuran (PBI). Dari total sekitar 96 juta penerima, ternyata ada sekitar 47 ribu orang mampu yang masih masuk daftar. Bahkan dengan nada bercanda, Budi sempat nyebut mantan sekjennya juga ikut “nyelip” di data itu.

Masalahnya nggak berhenti di situ. Di level daerah, khususnya bantuan PBU dari pemda, angkanya jauh lebih gila. Ada sekitar 35 juta orang yang dianggap nggak tepat sasaran berdasarkan data terbaru dari BPS. Belum lagi di kategori PBPU-BP kelas 3, ada tambahan sekitar 11 juta orang yang juga masuk kategori salah target.

Kalau ditotal, ini bukan angka kecil. Bisa dibilang, puluhan juta data masih perlu diberesin.

Tapi santai, pemerintah nggak tinggal diam. Budi memastikan bakal ada langkah konkret buat beresin masalah ini. Salah satu strateginya adalah mengalihkan bantuan dari kelompok yang sebenarnya mampu ke mereka yang lebih butuh.

Konsepnya sederhana: yang ada di desil atas alias kelompok kaya bakal mulai dikurangi atau bahkan dicoret dari daftar penerima. Sementara itu, masyarakat di desil menengah ke bawah yang belum kebagian bakal diprioritaskan.

“Demi keadilan, kuota bantuan akan kita geser ke yang lebih berhak,” tegas Budi.

Dengan integrasi data berbasis BPS yang lebih solid, pemerintah berharap distribusi bantuan BPJS ke depan bisa makin tepat sasaran. Nggak ada lagi cerita orang kaya dapat subsidi, sementara yang butuh malah ke-skip.

Intinya? Data lagi diberesin, sistem lagi ditata, dan targetnya jelas: bantuan harus nyampe ke orang yang bener-bener butuh. Gaspol beresin data, biar nggak salah kasih bantuan lagi.