Manusiasenayan.id – Di panggung politik nasional, nama Gusti Farid Hasan Aman bukan tipe yang tiap hari wara-wiri cari sorotan. Tapi kalau soal konsistensi, dia masuk kategori “diam-diam ngunci permainan”.
Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 21 September 1967, Farid datang dari latar yang nggak asing dengan dunia kepemimpinan. Tapi menariknya, dia nggak sekadar numpang nama. Dia ngebangun jalannya sendiri—pelan, tapi pasti.
Secara akademik, Farid bukan kaleng-kaleng. Lulusan S2 dari City University of Seattle, Amerika Serikat, dia punya fondasi kuat di bidang ekonomi dan akuntansi. Nggak heran kalau sejak 1996, dia sudah aktif sebagai anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia. Buat ukuran politisi, ini tipe yang ngerti angka, bukan sekadar ngomong angka.
Masuk ke dunia DPD RI, Farid bisa dibilang pemain lama yang tetap relevan. Dari periode 2009 sampai sekarang, dia terus dipercaya masyarakat Kalimantan Selatan. Bahkan di Pemilu terbaru, dia kembali duduk sebagai anggota DPD RI periode 2024–2029 dengan raihan suara yang nggak main-main: 301.738 suara. Angka ini bukan cuma kemenangan, tapi bukti kalau basisnya solid.
Kalau ditarik ke belakang, ini berarti Farid sudah mengamankan kursinya selama empat periode berturut-turut di DPD RI (2009–2029). Di dunia politik yang keras dan penuh persaingan, angka itu bukan kebetulan—itu hasil dari konsistensi dan kepercayaan publik yang terjaga.
Di luar parlemen, Farid juga aktif di berbagai organisasi. Dia pernah jadi Ketua Alumni UGM Kalimantan Selatan selama dua periode, serta memimpin Alumni ESQ Kalsel. Artinya, jejaringnya nggak cuma di politik, tapi juga di dunia akademik dan pengembangan diri.
Di tongkrongan politik, sosok kayak Farid ini sering disebut “low profile, tapi high impact”. Nggak banyak gimmick, tapi kerjaannya jalan terus. Fokusnya jelas: memperjuangkan kepentingan daerah, khususnya Kalimantan Selatan, di level nasional.
Sebagai wakil daerah dari Dapil Kalimantan Selatan, Farid paham betul bahwa tugasnya bukan sekadar duduk di Senayan. Tapi jadi jembatan antara pusat dan daerah—biar pembangunan nggak cuma numpuk di Jawa, tapi juga kerasa sampai Banua.
Dan di tengah politik yang sering terlalu ramai, Gusti Farid Hasan Aman justru hadir dengan gaya yang beda: nggak perlu banyak suara, yang penting hasilnya nyata.
