Manusiasenayan.id – Mendorong dosen untuk terus meningkatkan kualitas memang penting. Tapi kalau tuntutan makin tinggi sementara kesejahteraan masih jalan di tempat, itu bisa jadi masalah besar. Pesan inilah yang disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih saat menyoroti pentingnya perhatian pemerintah terhadap nasib para dosen di Indonesia.

Menurut Fikri, dosen merupakan salah satu ujung tombak dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Mereka bukan hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga menjalankan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari tridarma perguruan tinggi. Karena itu, peningkatan kualitas dosen harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan mereka.

Ia mengingatkan, pemerintah saat ini terus mendorong dosen agar memiliki kompetensi yang lebih tinggi, termasuk meningkatkan kualifikasi hingga jenjang doktor atau S3. Namun, menurutnya, kebijakan tersebut akan sulit memberikan hasil maksimal apabila tidak diiringi dengan perhatian terhadap kesejahteraan para tenaga pendidik.

“Kalau kemudian dosen yang dituntut nanti ke depan harus S3, kompetensi mereka harus dinaikkan, tapi kesejahteraan mereka tidak diperhatikan, ini alarm besar karena investasi kita yang paling tepat adalah di SDM dan tidak ada lagi lewat pendidikan, baik pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi,” ujar Fikri kepada Parlementaria usai Rapat Paripurna di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Politisi Fraksi PKS itu menilai kesejahteraan bukan sekadar soal pendapatan, tetapi menjadi fondasi agar dosen dapat bekerja lebih fokus dan maksimal. Dengan dukungan yang memadai, dosen memiliki ruang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, menghasilkan riset yang lebih inovatif, hingga memperluas kontribusi kepada masyarakat.

Fikri menegaskan bahwa investasi terbaik yang bisa dilakukan negara adalah investasi pada SDM. Jalan menuju SDM unggul, menurutnya, hanya bisa ditempuh melalui pendidikan yang berkualitas. Karena itu, memperkuat posisi dosen menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan tinggi tidak cukup hanya mengejar angka lulusan bergelar doktor atau peningkatan kompetensi akademik. Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan dosen agar peningkatan kualitas pendidikan berjalan secara berkelanjutan.

Bagi Fikri, kualitas pendidikan tinggi tidak akan lahir begitu saja tanpa dukungan terhadap orang-orang yang berada di balik proses pembelajaran. Ketika dosen mendapatkan perhatian yang layak, mereka akan lebih leluasa mengembangkan inovasi, memperkuat penelitian, serta mencetak lulusan yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global.

Karena itu, ia berharap pemerintah menjadikan peningkatan kesejahteraan dosen sebagai salah satu prioritas dalam penyusunan kebijakan pendidikan tinggi. Dengan begitu, target menghadirkan SDM Indonesia yang unggul tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar bisa diwujudkan melalui pendidikan yang kuat dan tenaga pendidik yang sejahtera.