ManusiaSenayan.id – Gde Sumarjaya Linggih — akrab disapa Demer — bukan hanya politisi biasa. Ia punya tiga wajah yang kadang tampak kontras tapi saling melengkapi: legislator, pengusaha, dan pecinta budaya. Ketiganya membentuk citranya di Bali dan nasional.
- Legislator: Warga Senayan dengan Komisi VI
Sejak tahun 2004, Demer pernah dipilih jadi anggota DPR RI berkali-kali dari Dapil Bali. Di parlemen, dia fokus di Komisi VI (Perdagangan, Industri, Investasi, Koperasi, UKM & BUMN, Standarisasi Nasional).
Beberapa isu yang dia angkat termasuk dukungan untuk destinasi wisata lokal supaya menyerap tenaga kerja lokal, bukan hanya jadi tontonan bagi wisatawan saja. Dia juga mendorong Golkar Bali menjadi partai yang modern, berbasis data, dan lebih dekat dengan generasi muda, agar partai tidak “jadul”.
- Pengusaha Properti
Demer berasal dari keluarga pengusaha dan sejak muda telah memimpin usaha keluarga. Beberapa bisnis yang dikelolanya antara lain usaha properti.
Saat ini dia juga menjabat sebagai Komisaris Utama di PT Metafora Internasional. Sebagai pengusaha di Bali, Demer tidak hanya sekadar bisnis untuk profit, tapi juga mengadopsi kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata, wisata agro, dan upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi lewat sektor-wisata.
- Pecinta Budaya: Kesadaran Akan Identitas Bali
Demer juga menunjukkan sisi yang menghargai budaya dan tradisi Bali:
- Desa Wisata: Ia pernah difasilitasi dalam penyelenggaraan seminar pembangunan desa wisata di Desa Tajun, Buleleng.
- Opini terhadap Kebudayaan Bali: Demer pernah menyuarakan kritik terhadap rencana Pusat Kebudayaan Bali, menyebut keprihatinan bahwa budaya bisa menjadi sesuatu yang “dimuseumkan”.
- Wisata & Seni Nasional / Internasional: Ia menyambut baik perhelatan besar seperti KTT G20 di Bali yang menurutnya bisa memperkuat brand budaya dan pariwisata.
Kesimpulan
Tiga sisi Demer — sebagai legislator, pengusaha, dan pecinta budaya — saling terkait. Usahanya dalam bisnis properti dimanfaatkan bukan hanya untuk keuntungan pribadi, tapi juga untuk memperkuat ekonomi lokal dan budaya. Di parlemen ia punya peluang dan tanggung jawab untuk menyusun regulasi dan kebijakan yang mempengaruhi usaha dan budaya. Dan sebagai pecinta budaya, dia mengangkat isu agar budaya Bali tetap hidup, tidak hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai kehidupan masyarakat sehari-hari.
