Manusiasenayan.id – Pemerintah mulai pasang garis tegas buat para produsen rokok ilegal. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, ngasih ultimatum: masuk ke jalur legal atau siap-siap ditutup. Nggak ada lagi zona abu-abu.
Dalam pernyataannya, Purbaya bilang pemerintah sebenarnya masih kasih ruang buat para pelaku usaha ini buat beralih ke sistem yang resmi. Tapi jangan salah, kesempatannya nggak bakal lama. Targetnya jelas: paling lambat Mei 2026, semua harus sudah mulai jalan di jalur legal.
“Kalau nggak mau ikut aturan, ya kita tutup,” tegasnya. Nada bicaranya santai, tapi pesannya jelas: ini bukan sekadar imbauan, tapi warning serius.
Menurut Purbaya, langkah ini bukan cuma soal penertiban, tapi juga soal potensi pemasukan negara. Selama ini, rokok ilegal beredar bebas tanpa kontribusi ke kas negara. Padahal kalau masuk jalur resmi, produk-produk ini bisa jadi sumber pendapatan yang cukup besar lewat cukai.
Makanya, pemerintah lagi ngebut ngerancang skema transisi biar para produsen bisa beradaptasi tanpa harus langsung mati usaha. Tapi tetap, ada syarat utama: mereka wajib bayar cukai sesuai aturan kalau mau tetap eksis di pasar.
Saat ini, kebijakan tersebut masih dalam tahap pembahasan bareng DPR. Purbaya bilang proposalnya sudah rampung, tinggal nunggu lampu hijau dari parlemen. Kalau sudah disetujui, pemerintah bakal langsung gas implementasi di lapangan.
“Proposal udah selesai, tinggal kita bahas bareng DPR biar bisa segera dijalankan,” jelasnya.
Langkah ini juga jadi sinyal kalau pemerintah mulai serius beresin sektor rokok ilegal yang selama ini susah dikontrol. Dengan pendekatan ini, pemerintah nggak cuma mengandalkan penindakan, tapi juga kasih opsi legalisasi sebagai jalan tengah.
Di sisi lain, produsen rokok ilegal juga dituntut buat lebih patuh terhadap regulasi. Nggak bisa lagi main kucing-kucingan. Pilihannya sekarang cuma dua: ikut aturan atau angkat kaki dari bisnis ini.
Kalau skema ini berhasil, bukan cuma negara yang untung. Industri rokok juga bisa jadi lebih sehat dan transparan. Tinggal sekarang, para pelaku usaha mau ambil kesempatan ini atau justru nekat ambil risiko.
