Manusiasenayan.id – Kabar keren datang dari Trenggalek. Salah satu kesenian kebanggaan daerah, Turonggo Yakso, bakal tampil di panggung dunia. Bersama berbagai kekayaan budaya dari kawasan Mataraman, kesenian khas ini dipercaya mewakili Indonesia dalam ajang The 2026 World Island Exhibition yang digelar di Yeosu, Korea Selatan, pada 5 September hingga 4 November 2026.
Ajang internasional tersebut bukan acara biasa. Lebih dari 200 negara akan ambil bagian dalam pameran bertema “Island, Connecting the Ocean and the Future”. Indonesia pun mendapat kesempatan istimewa karena dijadwalkan tampil sebagai tarian pembuka yang akan menyambut para peserta dan pengunjung dari berbagai negara.
Bagi Trenggalek, momen ini menjadi kesempatan besar untuk memperkenalkan budaya lokal ke level global. Tak hanya menunjukkan keindahan seni pertunjukan, tetapi juga membawa cerita, sejarah, dan identitas masyarakat yang selama ini tumbuh dan hidup di daerah tersebut.
Dukungan penuh terhadap partisipasi ini datang dari Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini. Menurutnya, kesempatan tampil di forum internasional seperti ini merupakan langkah strategis untuk memperluas promosi budaya daerah sekaligus memperkuat citra Indonesia di mata dunia.
Novita menilai Turonggo Yakso bukan sekadar pertunjukan tari. Di balik gerakan para penarinya, terdapat nilai budaya, sejarah panjang, dan kebanggaan masyarakat Trenggalek yang layak dikenal lebih luas oleh masyarakat internasional.
“Ini kesempatan emas bagi Trenggalek dan kawasan Mataraman untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa,” ujar Novita.
Pameran tersebut nantinya akan mengubah Kota Yeosu, Provinsi Jeolla Selatan, menjadi ruang pamer terbuka selama 61 hari. Berbagai pulau dan kawasan pesisir akan dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan yang menampilkan potensi budaya, pariwisata, lingkungan, hingga ekonomi kreatif dari berbagai negara.
Menurut Novita, kehadiran Trenggalek di forum global ini bukan hanya soal diplomasi budaya, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah. Ia berharap promosi budaya mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari meningkatnya kunjungan wisata hingga terbukanya lapangan pekerjaan baru.
“Budaya tidak boleh hanya menjadi tontonan. Budaya harus menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Selain menampilkan Turonggo Yakso, delegasi Indonesia juga akan membawa berbagai kekayaan budaya kawasan Mataraman, termasuk budaya Ponorogo. Kehadiran mereka menjadi representasi keberagaman tradisi Jawa Timur yang kaya nilai sejarah, filosofi, dan kreativitas.
Sebagai informasi, Turonggo Yakso merupakan tarian jaranan khas Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Kesenian ini diciptakan sekitar tahun 1979 oleh seniman lokal Pamrih dan Supriyanto. Ciri khasnya terletak pada kuda kepang berkepala raksasa atau yakso yang terinspirasi dari tradisi Baritan sebagai ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen.
Kini, kesenian yang lahir dari desa itu bersiap melangkah lebih jauh. Dari Trenggalek menuju Korea Selatan, Turonggo Yakso membawa satu pesan sederhana: budaya lokal Indonesia punya tempat yang sama terhormatnya di panggung dunia.
