Manusiasenyan.id – Kalau ngomongin sosok senator yang jalannya bukan dari karpet merah politik, tapi dari lapangan dan komunitas, nama Dr. Yulianus Henock Sumual, S.H., M.Si. layak banget masuk daftar. Politisi yang sekarang duduk sebagai Senator DPD RI dari Kalimantan Timur ini dikenal sebagai figur yang cukup vokal menyuarakan kepentingan masyarakat adat dan komunitas lokal di Bumi Etam.
Henock—begitu ia biasa disapa—lahir di Samarinda pada 10 Juli 1977. Sejak muda, ia sudah dekat dengan dinamika sosial masyarakat di Kalimantan Timur. Lingkungan tempat ia tumbuh membuatnya cukup akrab dengan isu adat, budaya, dan pembangunan daerah. Hal itulah yang kemudian membentuk karakter kepemimpinannya sampai sekarang.
Perjalanan Henock menuju Senayan juga bukan sesuatu yang instan. Dalam Pemilu Legislatif 2024, ia berhasil mengumpulkan 140.044 suara, angka yang cukup kuat untuk mengantarkannya menjadi Senator DPD RI terpilih periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Kalimantan Timur. Kemenangan ini sekaligus menandai masuknya tokoh masyarakat adat ke ruang pengambilan kebijakan nasional.
Yang menarik, sebelum duduk di parlemen, Henock sebenarnya sudah lama aktif di berbagai organisasi sosial, adat, dan keagamaan. Ia dipercaya memegang sejumlah posisi penting yang berkaitan langsung dengan pemberdayaan masyarakat.
Di tingkat organisasi adat, misalnya, ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (2020–2025) sekaligus Sekretaris Dewan Pertimbangan Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur (2020–2025). Dua posisi ini menunjukkan bagaimana Henock cukup dipercaya dalam lingkaran kepemimpinan komunitas adat di daerahnya.
Tak berhenti di situ, ia juga aktif di organisasi keagamaan dan intelektual. Henock tercatat sebagai Ketua Umum Christian Center Kalimantan Timur (2021–2025) serta Ketua Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia Kalimantan Timur (2022–2027). Di ruang ini, ia banyak terlibat dalam kegiatan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan jaringan intelektual berbasis komunitas.
Kiprahnya di organisasi Dayak juga cukup luas. Ia menjadi Dewan Pembina Sempekat Dayak Tunjung Benuaq Kalimantan Timur (2022–2027) serta Ketua Bidang Hukum DPP Ikatan Cendikiawan Dayak Nasional (2020–2025). Posisi ini memperlihatkan bahwa perannya tidak hanya di level daerah, tetapi juga dalam jaringan nasional komunitas Dayak.
Dengan latar belakang pendidikan hukum dan ilmu sosial, Henock dikenal sebagai figur yang cukup aktif mengawal isu-isu seperti hak masyarakat adat, konflik lahan, dan pembangunan daerah yang lebih inklusif. Baginya, pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari proyek dan angka ekonomi, tetapi juga harus menghormati identitas dan ruang hidup masyarakat lokal.
Kini, lewat posisinya sebagai Anggota DPD RI dari Dapil Kalimantan Timur, Henock membawa satu misi yang cukup jelas: memastikan suara masyarakat daerah—terutama komunitas adat—tidak tenggelam di tengah hiruk-pikuk politik nasional.
Dari ruang komunitas hingga ruang sidang Senayan, perjalanan Yulianus Henock Sumual menunjukkan satu hal sederhana: kadang suara paling kuat justru datang dari mereka yang sejak awal berdiri paling dekat dengan masyarakatnya.
