ManusiaSenayan.id Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, alias Bu Ninik, baru aja nemuin fakta yang bikin kening berkerut saat ngecek dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Gorontalo. Data dari Badan Gizi Nasional (BGN) di rapat Jakarta katanya udah rapi, tapi di lapangan kok beda cerita.

“Dalam rapat kerja, BGN memaparkan bahwa menu untuk anak sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan ibu hamil dirancang berbeda. Namun yang kami lihat di lapangan justru instruksinya sama, hanya porsi dan teksturnya saja yang berbeda,” ujarnya, Senin.

Padahal, beda usia dan kondisi itu beda kebutuhan. Anak SD jelas nggak bisa disamain gizinya sama remaja SMP atau ibu hamil. Kalau disamain, sama aja kayak ngasih ukuran baju XXL ke anak kelas satu — niatnya baik, tapi jadinya kedodoran.

Contohnya, Bu Ninik nemuin menu telur balado. “Kalau menu untuk anak-anak ada unsur pedasnya, apakah ini sudah tepat? Kita harus evaluasi lagi. Karena cita rasa pedas bisa mempengaruhi nafsu makan anak-anak, bahkan berisiko mengganggu pencernaan,” katanya.

Masalah ini, kata dia, bukan sekadar soal teknis masak. “Kalau yang tertulis di laporan berbeda dengan yang terjadi di lapangan, ini bukan sekadar masalah teknis. Ini menyangkut akuntabilitas,” tegasnya.
Ia berharap BGN segera melakukan evaluasi menyeluruh dan memperbaiki koordinasi. “Gizi yang tepat sasaran adalah kunci untuk membangun generasi emas Indonesia. Kalau salah sasaran, dampaknya akan panjang,” pungkasnya.

Jadi, intinya jangan cuma jago bikin menu di PowerPoint. Yang penting, pas di piring rakyat, gizinya tepat, porsinya pas, dan rasanya bikin lahap, bukan bikin nyari minum.