ManusiaSenayan.id – Kalau ngomongin politisi timur, nama La Ode Umar Bonte wajib masuk daftar. Anak Kendari ini sekarang udah resmi jadi anggota DPD RI periode 2024–2029, bahkan duduk manis sebagai Wakil Ketua Komite II. Tapi jangan salah, perjalanannya nggak instan kayak mie gelas. Ada jejak panjang yang bikin dia sampai ke kursi Senayan.
Umar Bonte lahir dan besar di Sulawesi Tenggara. Dari dulu dia dikenal cerewet kalau udah ngomongin urusan publik. Cerewet di sini bukan negatif ya, tapi tipe orang yang nggak tahan lihat masalah tanpa komentar. Pendidikan hukumnya makin bikin dia pede buat ngomong blak-blakan soal aturan dan kebijakan.
Pemanasan di Politik Lokal
Tahun 2014 jadi titik awal Bonte nyobain panasnya panggung politik. Dia melenggang ke DPRD Kota Kendari lewat bendera PDIP. Lima tahun duduk di kursi dewan kota bikin dia belajar kalau politik daerah itu keras, penuh drama, tapi juga real: langsung berhadapan sama kebutuhan warga sehari-hari.
Selain jadi anggota dewan, dia juga aktif di organisasi kepemudaan kayak KNPI dan relawan sosial. Jadi kalau ada bencana atau isu anak muda, Umar Bonte nggak cuma eksis di ruang sidang tapi juga di lapangan. Buatnya, politik itu nggak cukup hanya pakai jas, tapi juga harus siap pakai rompi relawan.
Tiket ke Senayan
Fast forward ke 2024, Umar Bonte memutuskan naik kelas. Dia maju ke DPD RI dari dapil Sulawesi Tenggara. Hasilnya? Bikin banyak orang melongo: 214 ribu lebih suara berhasil dia kantongi. Angka segede itu bikin dia salah satu kandidat dengan suara terbanyak. Dengan modal itu, dia resmi bawa nama Sultra ke Senayan.
Begitu dilantik, Umar Bonte langsung dapat posisi strategis: Wakil Ketua Komite II DPD RI. Buat yang belum tahu, Komite II ini ngurus hal-hal besar kayak sumber daya alam, infrastruktur, dan ekonomi. Jadi kalau ada obrolan tentang tambang di Sultra, perkebunan di NTT, atau jalur kereta di Jawa, Umar Bonte termasuk yang ikut nimbrung serius.
Suara Lantang dan Kontroversi
Nah, bagian ini yang bikin nama Umar Bonte sering muncul di media. Dia dikenal punya gaya komunikasi “tanpa filter”. Ceplas-ceplos, apa adanya, bahkan kadang bikin orang geleng-geleng kepala. Pernah juga melontarkan komentar pedas ke tokoh nasional sampai jadi bahan perdebatan di media sosial.
Buat sebagian orang, gaya kayak gini kontroversial. Tapi buat pendukungnya, inilah bukti kalau Umar Bonte berani ngomong jujur tanpa takut dibully. Dalam politik, tipe kayak gini bisa jadi pedang bermata dua: bisa bikin populer, bisa juga bikin pusing.
Fokus pada Isu Lokal
Meski udah di Senayan, Umar Bonte nggak lupa sama kampung halaman. Ia sering angkat suara soal tata kelola tambang di Sulawesi Tenggara, yang memang jadi isu sensitif di daerah. Kritiknya ke pemerintah daerah soal RTRW dan izin tambang sering muncul di media lokal. Dari sini terlihat kalau dia tetap bawa aspirasi daerah, bukan cuma sibuk dengan urusan Jakarta.
Masa Depan yang Menarik
Perjalanan Umar Bonte dari DPRD Kendari sampai jadi pimpinan alat kelengkapan di DPD terbilang cepat. Modal suara gede plus gaya bicara berani bikin dia jadi salah satu figur muda dari Sultra yang patut diperhitungkan.
Kalau politik diibaratkan panggung musik, Umar Bonte ini kayak musisi indie dari Kendari yang akhirnya bisa main di panggung besar Senayan. Suaranya keras, lagunya kadang kontroversial, tapi selalu bikin orang dengerin. Pertanyaannya, apakah “lagu politik” Umar Bonte bakal terus naik di chart nasional? Waktu yang bakal jawab.
