ManusiaSenayan.id – Kalau kamu sering lihat nama Lia Istifhama seliweran di lini masa, ya itu bukan kebetulan. Senator asal Jawa Timur ini resmi melenggang ke DPD RI periode 2024–2029 dengan 2.739.123 suara—membuatnya jadi senator perempuan non-petahana dengan suara tertinggi secara nasional pada Pemilu 2024.

Dari aktivis kampus ke “senator pendidikan”

Ning Lia lama dikenal sebagai aktivis sosial yang dekat dengan dunia pendidikan. Di Senayan ia masuk Komite III DPD RI (isu pendidikan, kesehatan, sosial), dan reputasinya dibangun dari aktivitas sebagai akademisi/pendidik serta pegiat pemberdayaan.

Sejak awal masa tugas, Ning Lia getol mengawal isu sekolah dan guru: dari sertifikasi guru PAI, percepatan PPG Kemenag, sampai mendorong revisi UU Sisdiknas agar lebih melindungi guru dan menjamin pendidikan inklusif.

Suara nyaris 3 juta: bukan hype doang

Di Jawa Timur, laju suara Ning Lia bikin petahana ketar-ketir. Saat real count berjalan, namanya nongol di papan atas. Ujungnya, ia tembus 2,7 juta suara dan mengunci kursi senator. Media arus utama ikut menyorot tren ini sejak masa penghitungan.

Kerja lapangan yang kelihatan

Ning Lia turun ke teknis: audiensi dengan Kemenag Jatim untuk persiapan haji 2025, fungsi pengawasan layanan publik. Di pendidikan, ia soroti aturan zonasi PPDB agar anak berkebutuhan khusus tidak tersisih.

Akar kultural kuat, jejaring rapi

Lia lahir di lingkungan Nahdlatul Ulama, publik mengenalnya sebagai keponakan Khofifah Indar Parawansa. Modal kultural ini dibawa ke kerja representasi daerah: pesantren, kampus, dan komunitas perempuan—ekosistem yang bikin advokasinya lincah.

Kenapa kisahnya relevan buat anak muda?

Bukti “jalan lain” ke politik. Lia bukan figur partai, tapi membuktikan jalur DPD bisa berdampak lewat issue-based politics—fokusnya: pendidikan, guru, inklusi.

  • Data dulu, baru gas → program konkret (PPG, Sisdiknas, PPDB).
  • Konsisten turun ke user → sekolah, kampus, layanan haji.

Bottom line: Ning Lia bukan sekadar wajah baru ramai suara, tapi contoh aktivis yang paham isu bisa naik kelas jadi pembuat kebijakan tanpa putus urat nadi ke akar rumput. Track record & fokusnya di pendidikan bikin “senator hijau” ini layak dipantau.