ManusiaSenayan.id – Di tengah hiruk-pikuk politik nasional yang sering penuh drama, ada satu sosok dari Madura yang justru dikenal karena ketenangannya dan fokusnya menjaga marwah lembaga legislatif.
Namanya R.H. Imron Amin, S.H., M.H. — politisi muda Partai Gerindra yang sekarang duduk sebagai Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI.
Buat masyarakat Madura, dia akrab disapa “Ra Ibong” — panggilan yang mencerminkan akar keulamaannya sekaligus karakternya yang teduh tapi tegas.
Dari Jakarta ke Madura, Lalu Yogyakarta
Lahir di Jakarta pada 15 Agustus 1987, Imron tumbuh dengan akar Madura yang kuat. Walaupun lahir di ibu kota, masa kecil dan remajanya dihabiskan di Jawa Timur.
Dia mulai dari SD Ta’miriah Surabaya (1994–2000), lanjut ke SMPN 1 Kwanyar (2000–2003), dan SMAN 1 Bangkalan (2003–2006).
Setelah itu, langkahnya berlanjut ke Yogyakarta — kota pelajar yang jadi saksi perjalanan akademisnya di Universitas Islam Indonesia (UII). Di kampus ini, dia menyelesaikan S1 Hukum (2006–2011) dan S2 Hukum (2011–2013).
Garis besarnya: dari kecil sudah tekun belajar hukum, tapi tetap nggak kehilangan identitas Madura-nya.
Dari Bisnis ke Dunia Organisasi
Sebelum terjun ke politik, Imron sempat main di dunia bisnis. Dia menjabat sebagai Direktur CV Pusaka Graha (2013–2019). Tapi jiwanya bukan cuma soal cuan.
Kecintaannya pada kegiatan sosial dan organisasi bikin dia aktif di banyak tempat:
-
Wakil Ketua PC Ansor Bangkalan (2013–2016)
-
Ketua Umum PSSI Bangkalan (2014–2019)
-
Pembina PC NU Bangkalan (2014–2016)
-
Pembina BKPRMI (2015–2017)
-
Penasehat ISNU Bangkalan (2017–2018)
Kegiatannya lintas bidang banget — dari organisasi pemuda, keagamaan, sampai olahraga.
Dari situ, keliatan banget kalau karakternya terbentuk dari tiga hal: religius, sosial, dan aktif di dunia kepemudaan.
Menapaki Jejak Politik di Senayan
Langkah politik Imron dimulai lewat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Dengan Nomor Anggota 131, ia melaju ke DPR RI lewat Daerah Pemilihan Jawa Timur XI (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep).
Awalnya, ia duduk di Komisi I DPR RI yang ngebahas soal pertahanan, komunikasi, luar negeri, dan intelijen. Tapi kariernya naik level waktu dipercaya masuk ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) — lembaga internal DPR yang bertugas menjaga etika anggota parlemen.
Pada 2023, ia resmi dilantik sebagai Wakil Ketua MKD DPR RI, menggantikan Habiburokhman.
Di posisi ini, Imron sering tampil ke publik dengan isu-isu integritas, transparansi, dan tata krama politik.
Beberapa hal yang sempat jadi sorotannya antara lain:
-
Menentang pemalsuan pelat khusus DPR,
-
Menjelaskan fungsi TNKB DPR sebagai bentuk transparansi,
-
Dan mendorong kerja sama MKD dengan kepolisian supaya lembaga ini makin kuat dan dipercaya publik.
Vokal Soal Ekonomi dan Literasi Keuangan
Walaupun dikenal lewat perannya di MKD, Imron nggak melulu ngomong etika. Ia juga aktif menyuarakan isu ekonomi, terutama literasi keuangan dan dunia asuransi.
Menurutnya, banyak masalah keuangan yang muncul karena masyarakat belum melek soal pengelolaan uang dan risiko. Setelah banyak kasus gagal bayar di industri asuransi, ia menilai solusi jangka panjangnya cuma satu: edukasi sejak dini.
“Masyarakat harus diajarin paham soal keuangan sejak muda — bisa lewat kampus, sekolah, bahkan media sosial,” ujarnya dalam salah satu sesi diskusi publik.
Ra Ibong: Simbol Tradisi dan Modernitas
Nama “Ra Ibong” bukan cuma panggilan akrab, tapi simbol keterhubungan antara tradisi pesantren dan politik modern.
Imron adalah cicit dari ulama besar Syaichona Kholil Bangkalan, tokoh kharismatik yang dihormati di Madura dan dikenal sebagai guru para ulama besar di Indonesia.
Darah ulama itulah yang bikin Imron selalu menempatkan kejujuran dan etika sebagai fondasi perjuangannya di dunia politik.
Dengan gaya yang tenang, sopan, tapi firm, dia mencoba membuktikan kalau politisi muda bisa tetap idealis tanpa kehilangan realitas.
Politisi Muda, Etika Tinggi
Sekarang, di usia yang baru menginjak akhir 30-an, posisi Imron di Senayan terbilang strategis banget.
Dia mewakili Madura, tapi kiprahnya melampaui batas daerah — membawa pesan penting soal etika politik, transparansi, dan kepercayaan publik.
Tantangannya jelas: menjaga integritas lembaga yang sering kali disorot tajam oleh publik. Tapi justru di situ letak peluangnya.
Imron bisa jadi wajah baru DPR yang lebih bersih, muda, dan bisa dipercaya.
Penutup: Dari Madura untuk Indonesia yang Beretika
Buat banyak orang, Imron Amin bukan sekadar politisi. Dia adalah penjaga etika — orang yang berusaha mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa moral cuma akan berujung kehancuran.
Sebagai Putra Madura, ia membawa nilai-nilai yang kuat: religius, tangguh, dan berani bersuara untuk kebenaran.
Dan di tengah politik yang kadang penuh intrik, Imron hadir sebagai bukti bahwa kejujuran dan integritas masih punya tempat di Senayan.
