ManusiaSenayan.id — Nih guys, menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Indonesia masih kekurangan 9,9 juta rumah alias backlog perumahan nasional. Artinya, hampir 10 juta keluarga di negeri +62 belum punya rumah sendiri. Dan itu belum termasuk keluarga baru yang terus tumbuh sampai 2025. Kebayang kan gimana padatnya?
Buat nge-handle masalah itu, pemerintah akhirnya ngebut lewat Program 3 Juta Rumah. Ini bagian dari program prioritas nasional buat ningkatin kesejahteraan rakyat plus jadi salah satu mesin penggerak pertumbuhan ekonomi. Intinya: negara pengen hadir nyata buat bantu masyarakat berpenghasilan rendah biar bisa punya rumah layak dan terjangkau.
Nah, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda menyambut baik langkah ini. Tapi doi juga ngasih catatan penting: pasar perumahan makin nyiksa dompet. Harga tanah terus naik, material bangunan mahal, inflasi dan bunga KPR juga bikin pusing, sementara permintaan tinggi tapi stok terbatas.
“Disampaikan pemerintah bahwa backlog mencapai 9,9 juta unit itu di sebelah mana harus jelas, kemudian kualitas tanah dan bangunannya juga harus diperhatikan jangan sampai kondisinya tidak sesuai,” kata Huda dalam agenda Dialektika Demokrasi bertema “Program 3 Juta Rumah Wujud Nyata Pemerintah Dalam Menjawab Kebutuhan Dasar Masyarakat” di Gedung DPR, Kamis (9/10/2025).
Huda juga menegaskan, data penerima bantuan harus akurat. “Kerja sama dengan BPS perlu dilakukan untuk akurasi data,” ujarnya. Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional penting biar penerima bantuan benar-benar termasuk yang belum punya rumah atau rumahnya tidak layak huni.
Dan yang paling penting, kata Huda, “Masalah tidak akan selesai ketika masyarakat mendapatkan rumah. Masih banyak faktor yang juga harus diperhatikan seperti sanitasi air dan ekosistem hunian yang nyaman.”
Singkatnya, bukan cuma bangun tembok, tapi bangun kehidupan juga.
