ManusiaSenayan.id Kalau ngomongin politisi muda yang punya vibe keren tapi tetap membumi, nama Sarifah Ainun Jariyah alias Teh Ifah wajib banget disebutin. Perempuan kelahiran Balikpapan, 23 April 1987 ini sekarang duduk di DPR RI dari PDIP, mewakili Dapil Banten II (Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon). Tapi perjalanan dia ke kursi Senayan bukan cuma tentang politik — ini cerita tentang jatuh, bangkit, dan balik lagi dengan semangat baru.

Sarifah Ainun Jariyah, anak dari seorang tokoh Penajam Paser Utara, sejak muda sudah punya semangat besar untuk berkontribusi bagi banyak orang. Ia tumbuh dengan rasa peduli tinggi terhadap isu sosial dan pemerintahan. Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Mulawarman, jurusan Ilmu Pemerintahan, ia memutuskan untuk benar-benar terjun ke dunia politik.

Di usia 22 tahun, Teh Ifah sudah dipercaya menjadi anggota DPRD Penajam Paser Utara. Usia di mana kebanyakan orang masih mencari arah hidup, ia justru sudah memikirkan bagaimana membuat kebijakan yang bisa membawa perubahan nyata untuk masyarakat di daerahnya.

Ketika Hidup Beri Ujian Berat

Perjalanan hidup Teh Ifah nggak selalu mulus. Tahun 2015, dia kehilangan bayi kembar tiga yang meninggal dunia tak lama setelah dilahirkan — titik paling berat dalam hidupnya. Ia memilih mundur sementara dari politik dan fokus memulihkan diri.
Namun hidup memberi kesempatan kedua. Setahun kemudian, ia kembali dikaruniai bayi kembar tiga sehat. Dari situ, semangatnya untuk kembali berkarya justru makin besar. Ia menyadari bahwa rasa kehilangan bisa jadi sumber kekuatan baru kalau dihadapi dengan ikhlas.

Dari Balikpapan ke Banten: Pindah Jalur, Bukan Pindah Tujuan

Setelah bangkit, Teh Ifah memutuskan kembali ke politik — tapi kali ini di Banten II, bukan di Kalimantan Timur. Banyak yang heran kenapa ia pindah daerah pemilihan.
Bagi Teh Ifah, politik bukan soal asal, tapi di mana bisa berkontribusi lebih besar. Ia turun langsung ke masyarakat, mendengar keluhan warga, dan membangun jaringan dari nol.

Keputusan itu terbukti tepat. Di Pemilu 2024, Teh Ifah berhasil meraih lebih dari 83 ribu suara dan resmi melenggang ke Senayan. Dari Balikpapan ke Banten, langkahnya menunjukkan kalau konsistensi dan kerja keras nggak kenal batas wilayah.

Di DPR: Suara Muda yang Serius

Kini di Komisi I DPR RI, Teh Ifah menangani isu strategis kayak pertahanan, hubungan luar negeri, komunikasi, dan keamanan siber. Meski muda, ia aktif bersuara soal keamanan data pribadi, pinjaman online ilegal, dan ketahanan digital masyarakat.

Ia juga mendorong penguatan industri pertahanan dalam negeri, supaya Indonesia nggak bergantung pada produk luar. Menurutnya, kemandirian industri lokal bukan cuma soal ekonomi, tapi juga kedaulatan bangsa.

Deket Sama Warga, Nggak Cuma Duduk di Gedung DPR

Biar kerja di Jakarta, Teh Ifah tetap sering turun ke dapil. Ia rutin ngadain sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, kumpul bareng pelaku UMKM, dan dengerin aspirasi masyarakat akar rumput.
Ketika muncul isu lingkungan dan bahan radioaktif di Cikande, ia ikut mendorong agar penanganannya dilakukan serius. Ia juga aktif memperjuangkan hak pekerja perempuan dan tenaga kontrak yang sering terabaikan.

Buatnya, politik bukan sekadar duduk di ruang rapat, tapi hadir di tengah masyarakat. Ia percaya, keputusan yang baik lahir dari empati dan kedekatan dengan rakyat.

Dari Luka Jadi Kekuatan

Kisah Teh Ifah adalah contoh nyata bahwa setiap orang bisa bangkit, seberat apa pun ujian hidupnya. Dari kehilangan, ia menemukan arah baru; dari kesedihan, ia menemukan makna membantu orang lain.

Sekarang, di usia 38 tahun, Teh Ifah jadi salah satu wajah muda PDIP yang membawa warna baru di Senayancerdas, hangat, dan berdaya. Ia menunjukkan bahwa perempuan bisa kuat sekaligus lembut, tegas tapi tetap manusiawi.

Perjalanannya membuktikan satu hal penting:
Bangkit lagi itu bukan pilihan, tapi cara hidup.