ManusiaSenayan.id – Kalau biasanya politik diisi wajah-wajah senior yang udah kenyang jabatan, sosok Muhammad Khozin alias Gus Khozin datang dengan energi baru. Politikus muda dari PKB ini membawa semangat santri ke ruang parlemen — tenang, tapi tegas; sederhana, tapi punya arah jelas. Fokusnya bukan pada panggung besar, tapi pada kerja konkret: reforma agraria, tata kelola pemerintahan daerah, dan pemberdayaan pesantren.
Dari Santri ke Politikus
Lahir di Jember, 7 Juli 1988, Gus Khozin tumbuh di lingkungan pesantren sejak kecil. Ia menempuh pendidikan di lembaga Islam hingga akhirnya nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo — pesantren besar yang banyak melahirkan tokoh nasional.
Dari sanalah karakter dan cara pandangnya terbentuk: disiplin, terbuka, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Sebelum terjun ke dunia politik, Khozin udah punya jejak panjang di berbagai bidang. Ia pernah jadi wartawan, staf ahli kepala daerah di Bogor dan Bondowoso, hingga CEO PT Santri Milenial Indonesia, sebuah perusahaan yang mendorong kemandirian ekonomi pesantren.
Pengalaman itu bikin dia punya bekal unik: paham dunia birokrasi, ngerti denyut masyarakat, dan terbiasa berpikir strategis.
Kerja Serius di Komisi II DPR
Begitu duduk di Komisi II DPR RI, Gus Khozin langsung nyemplung ke isu yang sering dianggap “berat” dan kurang populer di kalangan politisi muda: pertanahan dan tata pemerintahan daerah.
Ia mendorong agar reforma agraria nggak cuma jadi proyek administratif, tapi benar-benar menyentuh masyarakat bawah — terutama petani dan warga desa yang selama ini kesulitan akses kepemilikan tanah.
Selain itu, ia juga aktif mengusulkan digitalisasi data pertanahan, biar sistem lebih transparan dan meminimalkan potensi sengketa serta praktik mafia tanah.
Nggak berhenti di situ, Khozin juga menyoroti masalah anggaran daerah yang mengendap di bank. Menurutnya, uang publik harus segera kembali ke masyarakat lewat program nyata, bukan dibiarkan menganggur di kas daerah.
Bawa Semangat Pesantren ke Ruang Politik
Sebagai kader PKB dan alumni pesantren, Gus Khozin percaya bahwa nilai-nilai santri bisa jadi kekuatan besar di dunia politik modern.
Bagi dia, pesantren bukan cuma tempat belajar agama, tapi juga laboratorium kepemimpinan, etika, dan kemandirian.
Makanya, ia aktif memperjuangkan agar pesantren nggak cuma dipandang dari sisi religius, tapi juga diberdayakan secara ekonomi dan sosial.
Khozin juga sering turun langsung ke daerah — ngobrol sama warga, ketemu pengasuh pesantren, dan nyari cara konkret biar kebijakan pemerintah benar-benar nyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
Gairah Baru dari Santri untuk Negeri
Sosok Gus Khozin ngasih warna baru di DPR. Ia datang bukan buat gaya, tapi buat kerja.
Dengan latar belakang santri, pengalaman di pemerintahan daerah, dan semangat muda, dia jadi jembatan antara nilai-nilai tradisi dan tantangan zaman.
Dari ngaji di pesantren sampai ngatur kebijakan di Senayan, Gus Khozin buktiin satu hal: politik bisa dijalani dengan hati bersih dan arah yang jelas.
Bukan soal jabatan tinggi, tapi tentang memastikan negara hadir buat rakyat kecil — persis seperti nilai yang dia pelajari sejak hari pertama di pesantren.
