ManusiaSenayan.id — Hari penutupan Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVI Lemhannas RI sukses digelar. Di antara para peserta yang lulus dengan wajah fresh setelah 3,5 bulan belajar ala “kelas elite anti ngantuk”, ada satu nama yang paling kencang menggaungkan isu meritokrasi: Dr. drg. Muh. Arief Rosyid Hasan, M.K.M.
Dalam Kertas Kerja Perorangan-nya, Arief mengangkat topik berat tapi dibungkus elegan: “Meritokrasi Kepemimpinan Muda Guna Transformasi SDM Unggul dalam Rangka Ketahanan Nasional.” Kalau diterjemahkan ke bahasa anak muda: “Yang pantes, yang kompeten, yang dapet.”
Arief mengingatkan bahwa bonus demografi Indonesia yang jumlahnya 53% Milenial dan Gen Z itu bukan cuma angka buat presentasi keren, tapi modal besar—asal dikasih ruang. Masalahnya, menurut Arief, ruang itu seringkali “tersangkut lem” budaya senioritas, patronase, dan biaya politik yang lebih mahal dari skincare anti-aging.
“Potensi pemimpin muda besar banget, tapi belum banyak masuk posisi strategis,” tegas Arief. Intinya, banyak yang berbakat, tapi pintunya masih sering dimonopoli “yang itu-itu aja”.
Dalam KKP-nya, Arief menawarkan Three Holistic Mega-Pillars—nama yang terdengar seperti DLC premium dalam game kebangsaan—yang intinya ingin memperkuat Lemhannas sebagai tempat lahirnya pemimpin lintas sektor yang grounded sama Pancasila dan kompeten secara teknis. Semua ini ditopang Manajemen Talenta Nasional berbasis data dan kompetensi. Jadi bukan lagi “siapa kenal siapa”, tapi “siapa bisa apa”.
Untuk memastikan semuanya transparan, Arief mengusulkan lahirnya Indeks Kepemimpinan Muda. Semacam leaderboard, tapi versi negara: siapa yang paling kompeten, siapa yang paling siap memimpin. Semua terekam, terukur, dan nggak bisa dikarang-karang.
Arief juga menegaskan bahwa meritokrasi bukan cuma jargon keren buat seminar, tapi syarat mutlak biar Indonesia punya stabilitas politik, inovasi ekonomi, dan karakter kebangsaan yang nggak gampang goyah.
“Yang terbaik dan berintegritas harus memimpin—bukan yang sekadar dekat kekuasaan,” ujarnya. Mic drop.
Selama 3,5 bulan, Arief ikut diskusi strategis dengan tokoh nasional dan studi luar negeri untuk memperkuat pemahaman geopolitik. Jadi bekalnya lengkap: dari nilai kebangsaan sampai analisis global.
Di akhir pendidikan, Arief mengajak anak-anak muda ikut Lemhannas: “Ini kawah candradimuka pemimpin lintas sektor. Yuk, gabung. Biar makin banyak pemimpin muda yang siap mengabdi.”
Simpelnya: Arief sudah lulus. Sekarang dia ngajak generasinya untuk ikut naik level.
