Manusiasenayan.idNgomongin isu perempuan nggak bisa setengah-setengah. Itulah pesan yang ditegaskan Wakil Ketua Umum PP KPPG Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik, Karmila Sari, saat mendorong pembentukan KPPG Center sebagai pusat advokasi perempuan, Jumat (19/12), di Jakarta.

Menurut Karmila, KPPG Center bukan sekadar nama keren, tapi kebutuhan nyata. Pasalnya, sampai hari ini perempuan masih dihadapkan pada banyak masalah serius. Mulai dari diskriminasi di ruang politik, kekerasan terhadap perempuan—terutama pekerja migran—sampai budaya patriarki yang bikin perempuan sering mentok di “glass block”, alias hambatan struktural yang susah ditembus.

KPPG perlu punya pusat advokasi yang terintegrasi, supaya persoalan perempuan bisa ditangani secara sistematis dan berkelanjutan, bukan reaktif dan parsial,” tegas Karmila.

Ia menilai, selama ini banyak isu perempuan yang muncul berulang karena tidak ditangani dengan satu sistem yang jelas. Padahal, KPPG punya modal kuat: jaringan kader di daerah dan akses langsung ke pemerintah serta para pemangku kepentingan. Kalau itu disatukan lewat KPPG Center, dampaknya bisa jauh lebih terasa.

Dengan adanya KPPG Center, Karmila berharap kader KPPG nggak cuma jadi penyampai aspirasi, tapi juga bagian dari solusi. Mulai dari advokasi kebijakan, pendampingan kasus, sampai perumusan rekomendasi yang konkret dan aplikatif.

Namun, ia mengingatkan bahwa solusi untuk persoalan perempuan nggak boleh berhenti di program-program normatif semata. Sosialisasi dan bantuan administratif itu penting, tapi belum cukup.

“Kita butuh pendekatan yang lebih substansial. Akses ke pakar dan tenaga ahli juga harus dibuka, supaya kebijakan dan advokasi yang kita dorong benar-benar berbasis data dan keilmuan,” jelasnya.

Buat Karmila, KPPG Center adalah langkah strategis agar perjuangan perempuan nggak jalan sendiri-sendiri. Ini soal membangun ekosistem advokasi yang solid, relevan, dan berdampak. Singkatnya: isu perempuan harus ditangani serius, pakai sistem, bukan sekadar wacana.