ManusiaSenayan.id – Di Kalimantan Selatan, “panggung” itu nggak selalu soal spotlight sama tepuk tangan. Kadang panggungnya berubah bentuk—jadi ruang rapat, forum kebijakan, sampai sidang kenegaraan. Dan di panggung versi ini, Muhammad Hidayattollah berdiri hari ini.
Nama Hidayattollah—atau yang akrab disapa Dayat El—muncul sebagai salah satu wajah muda Kalimantan Selatan di Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) periode 2024–2029. Jalannya menuju Senayan juga bukan lewat jalur “politikus klasik”, tapi lewat lintasan yang lebih relate sama anak muda: budaya, komunikasi publik, dan keterlibatan sosial.
Akar Banua dan Jalan Budaya
Hidayattollah berasal dari Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, daerah yang identik dengan tradisi Banua yang kuat. Dari lingkungan kayak gini, wajar kalau dia tumbuh dekat sama dunia budaya.
Pilihan kuliahnya pun nyambung. Ia menempuh pendidikan di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pada bidang Pendidikan Seni Pertunjukan. Ini bukan cuma soal gelar, tapi jadi “cara berpikir”: budaya buat dia bukan sekadar warisan, tapi bahasa identitas daerah.
Dari situ, namanya mulai dikenal publik lewat perannya sebagai Duta Wisata dan Budaya. Di fase ini, dia udah biasa tampil: ngenalin pariwisata, ngangkat narasi lokal, dan bikin budaya Banua terasa “nyampe” ke audiens yang lebih luas.
Ini panggung pertamanya.
Komunikasi, Media Sosial, dan Anak Muda
Bedanya Dayat El sama politisi konvensional: dia tumbuh di era ketika media sosial itu ruang representasi baru. Dia aktif bangun komunikasi publik, dikenal sebagai content creator/influencer daerah, dengan basis pengikut yang lumayan gede.
Di saat yang sama, dia juga menguatkan kapasitas diri lewat pendidikan lanjutan: disebut menempuh Magister Ilmu Komunikasi. Kombinasi ini—seni, budaya, komunikasi—yang bikin ciri khasnya kebaca: narasinya ringan, tampilannya dekat anak muda, tapi tetep bawa pesan identitas dan aspirasi daerah.
Ia juga disebut aktif sebagai wirausaha, yang makin ngunci citranya sebagai figur muda yang nggak cuma ngomong ide, tapi paham dunia kerja dan ekosistem kreatif yang sering digeluti Gen Z.
Memasuki Politik Representasi
Tahun 2023 jadi titik belok. Hidayattollah daftar sebagai bakal calon anggota DPD RI. Cara dia maju pun konsisten sama rekam jejak: nuansanya budaya, ngelibatin komunitas muda, dan pendekatannya komunikatif—bukan elitis.
Lalu di Pemilu 2024, ia terpilih jadi anggota DPD RI dari Kalimantan Selatan untuk periode 2024–2029.
Dari panggung budaya, dia naik ke panggung kebijakan.
Di internal DPD, Hidayattollah diberitakan duduk sebagai Wakil Ketua Panitia Perancang Undang-Undang (PPUU). Ini alat kelengkapan yang ikut ngurus kerja-kerja terkait isu perundang-undangan dari perspektif daerah. Jadi, bukan cuma “hadir rapat”, tapi juga ikut masuk ke “dapur kebijakan”.
Kerja Lapangan: Hadir Saat Daerah Butuh
Sebagai senator daerah, kerja lapangan itu penting banget—karena ukurannya bukan cuma statement, tapi hadir beneran.
Salah satu momen yang keangkat adalah keterlibatannya saat banjir di Kalimantan Selatan. Hidayattollah tercatat turun ke lokasi, bareng/berkoordinasi dengan Kementerian Sosial dan pemerintah daerah, sambil menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dari tanggap darurat sampai pemulihan.
Versi bahasa gampangnya: dia nggak nunggu isu lewat di timeline doang—tapi dateng, ngelihat langsung, dan dorong koordinasi biar bantuan dan recovery nggak mandek.
Di sisi lain, dia juga diberitakan membangun komunikasi dengan unsur kelembagaan daerah, termasuk lewat kunjungan ke Polda Kalsel, untuk penguatan sinergi dan stabilitas wilayah.
Dari Identitas ke Kebijakan
Kalau ditarik garis besarnya, perjalanan Muhammad Hidayattollah itu bukan lompatan instan, tapi pergeseran peran yang organik:
- dari panggung budaya → ngebangun identitas daerah
- ke ruang komunikasi publik → nyambungin diri dengan masyarakat
- sampai panggung kebijakan nasional → bawa aspirasi daerah lewat jalur formal
Dia bawa logika anak muda ke ruang yang sering dianggap kaku: politik representasi. Bahwa kebijakan itu bukan cuma soal pasal dan angka, tapi juga soal cerita, identitas, dan keberpihakan sama realitas daerah.
Epilog: Panggung yang Berbeda, Tujuan yang Sama
Hari ini, panggung Dayat El bukan lagi event budaya atau forum pariwisata. Dia ada di ruang sidang, rapat panitia, dan kunjungan kerja. Tapi tujuan yang dia bawa tetep sama: bikin Kalimantan Selatan kedengeran dan diperhitungkan.
Buat anak muda Banua, kisahnya bisa jadi reminder: jalan ke politik nggak harus bikin kamu ninggalin identitas. Justru identitas itu bisa jadi modal paling kuat.
Muhammad Hidayattollah udah pindah panggung.
Dari budaya ke kebijakan.
Dari ekspresi ke representasi.
Dan ceritanya masih lanjut.
