Manusiasenayan.id — Pasar modal lagi panas, regulator ikut kena getahnya. Setelah IHSG anjlok tajam, sejumlah pejabat tinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memilih mundur dengan alasan tanggung jawab moral. Di tengah situasi itu, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Dolfie Othniel Frederic Palit, angkat suara dan kasih catatan keras tapi terukur buat OJK.

Menurut Dolfie, yang paling penting sekarang bukan drama pengunduran diri, tapi langkah konkret pemulihan pasar. Target utamanya jelas: mengejar kesesuaian standar internasional MSCI (Morgan Stanley Capital International) sebelum pengumuman indeks pada Mei 2026.

“Prioritas yang harus segera dijalankan OJK adalah memastikan kesesuaian dengan standar MSCI melalui langkah-langkah struktural,” kata Dolfie, Sabtu (31/1/2026).

Bahasa gampangnya: waktu mepet, PR numpuk, dan pasar nunggu kepastian.

Free Float Jadi Kunci, Bukan Wacana Baru

Dolfie mengingatkan bahwa Komisi XI DPR RI sudah sejak Desember 2025 mendorong OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) buat memperkuat kebijakan free float. Ini bukan ide dadakan gara-gara IHSG rontok, tapi hasil kesimpulan resmi rapat kerja.

Arahnya jelas:

  • memperkuat saham big cap,
  • ningkatin likuiditas pasar,
  • menekan manipulasi harga,
  • ningkatin transparansi dan kepercayaan investor,
  • sekaligus memperdalam pasar modal nasional.

Ke depan, kata Dolfie, kebijakan free float perlu dinaikkan dari 7,5% ke minimal 10–15%, tapi dengan catatan penting:

  • dilakukan bertahap dan terukur,
  • disesuaikan dengan karakter emiten (nggak disamaratakan),
  • diiringi penguatan investor domestik,
  • didukung insentif dan pengawasan ketat,
  • serta benar-benar mencegah manipulasi harga.

Intinya: naik kelas iya, tapi jangan sembrono.

IHSG Anjlok, Investor Langsung Pasang Mode Hati-Hati

Dolfie juga menyinggung kondisi pasar yang lagi sensitif. Setelah MSCI Inc. mengumumkan pembekuan rebalancing IHSG pada 28 Januari 2026, pasar langsung bereaksi keras.

IHSG sempat terkoreksi tajam hingga 7–8 persen dalam satu sesi. Efek dominonya terasa cepat.

“Sentimen investor jadi sangat hati-hati. Banyak investor asing memilih menunggu dan menyesuaikan portofolio,” ujar Dolfie.

Dalam bahasa pasar: uang nggak kabur, tapi juga nggak masuk.

Pejabat OJK Mundur: Tanggung Jawab Moral

Di tengah gejolak itu, publik dikejutkan oleh pengunduran diri sejumlah petinggi OJK. Mereka yang mundur antara lain:

  • Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar,
  • Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK), Inarno Djajadi,
  • serta Deputi Komisioner IB Aditya Jayaantara.

OJK menyebut pengunduran diri ini sebagai bentuk tanggung jawab moral demi mendukung langkah pemulihan yang diperlukan.

“Pengunduran diri bersama ini merupakan bentuk tanggung jawab moral,” tulis OJK dalam keterangan resmi, Jumat (30/1/2026).

Secara prosedural, pengunduran diri itu sudah disampaikan sesuai aturan dan akan diproses berdasarkan UU OJK dan UU P2SK.

Fokus ke Depan, Bukan Sibuk Cari Kambing Hitam

Buat Komisi XI, pesan besarnya jelas: jangan berhenti di simbolik. Pasar butuh kepastian, regulator butuh stabilitas, dan investor butuh arah kebijakan yang konsisten.

Manusia Senayan mencatat: pasar modal nggak butuh kegaduhan tambahan. Yang dibutuhkan sekarang adalah kebijakan yang rapi, eksekusi yang tenang, dan keberanian berbenah sebelum MSCI mengetuk palu.