Manusiasenayan.id – Nama Syafruddin Afan mungkin nggak tiap hari wara-wiri di headline, tapi rekam jejaknya nggak bisa dianggap kaleng-kaleng. Politisi dari Fraksi PKB ini sekarang duduk sebagai Anggota Komisi XII DPR RI periode 2024–2029, setelah sebelumnya kenyang pengalaman selama 2014–2024 sebagai Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur. Sepuluh tahun di parlemen daerah bukan waktu yang sebentar—itu fase tempaan sebelum naik kelas ke Senayan.

Lahir dan besar dengan latar pendidikan yang dimulai dari MI Bima (1985–1991), lalu MTs Bima (1991–1994) dan SMU PGRI Woha Bima (1994–1997), Afan tumbuh dari lingkungan pendidikan sederhana. Ia lalu melanjutkan studi ke FKIP UNMUL (2001–2003), jurusan Guru Kelas Sekolah Dasar, sebelum memperdalam ilmu di IKIP PGRI (2003–2008), Pendidikan Ekonomi. Background pendidikannya ini ngebentuk cara pandangnya yang sistematis dan cukup membumi dalam melihat persoalan rakyat.

Masuk ke dunia organisasi, Afan sudah “panas” sejak muda. Ia pernah jadi Ketua Cabang PMII (2004–2005), aktif di KNPI sejak 2007, lalu dipercaya sebagai Ketua DPW PKB Kalimantan Timur sejak 2008—posisi strategis yang nunjukin pengaruhnya di internal partai. Ia juga terlibat di ANSOR (sejak 2020) dan kini mengemban amanah sebagai Ketua PW IKA PMII Kalimantan Timur periode 2025–2030. Jaringan? Jelas luas. Pengalaman? Nggak diragukan.

Karier legislatifnya makin solid saat ia duduk di DPR RI dan masuk ke Komisi XII DPR RI, komisi yang membidangi isu energi, sumber daya mineral, lingkungan hidup, dan investasi. Di sini, Afan nggak cuma duduk manis. Ia juga terlibat di Badan Anggaran, Badan Legislasi, serta sejumlah Panitia Khusus. Artinya, perannya bukan cuma di sektor teknis, tapi juga di dapur strategis pembentukan undang-undang dan pengawalan anggaran negara.

Atas kiprahnya di daerah, ia bahkan meraih BK Award DPRD Provinsi Kalimantan Timur tahun 2024—sebuah pengakuan atas kinerjanya selama satu dekade di parlemen provinsi.

Gaya politik Syafruddin Afan bisa dibilang low profile tapi konsisten. Ia datang dari tradisi organisasi kader dan partai yang kuat, lalu tumbuh lewat proses panjang, bukan instan. Dari Bima, meniti jalan di Kalimantan Timur, sampai akhirnya duduk di Senayan—narasinya jelas: kerja pelan, tapi pasti.

Di tengah isu besar soal tambang, transisi energi, dan investasi, Afan berdiri di posisi strategis. Buatnya, kebijakan energi bukan cuma soal angka dan proyek, tapi soal dampaknya ke masyarakat. Dan di situlah ia pasang badan—biar suara daerah tetap terdengar di pusat kekuasaan.