Manusiasenayan.id – Insiden asap oranye yang muncul dari sebuah pabrik di kawasan Cilegon, Banten, lagi-lagi jadi alarm keras soal keselamatan industri dan lingkungan. Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Shanty Alda Nathalia, angkat suara dan menegaskan satu hal penting: ini bukan kejadian receh yang bisa dilupakan begitu saja.

Menurut Shanty, langkah cepat memang sudah diambil. Ia mengaku langsung berkomunikasi dengan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, dan memastikan tim dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sudah turun ke lokasi buat cek langsung kondisi di lapangan. Respons cepat ini diapresiasi, tapi Shanty mengingatkan: jangan berhenti di situ.

“Tim sudah diturunkan, dan itu respons taktis yang kita butuhkan. Tapi kerjaan belum selesai. Yang kita perlukan sekarang adalah investigasi menyeluruh. Jangan cuma lihat asapnya, tapi bongkar sampai ke akar masalahnya,” tegas Shanty.

Buat Shanty, munculnya asap oranye bukan sekadar insiden visual yang bikin panik warga. Itu sinyal serius adanya kegagalan sistem di dalam pabrik. Karena itu, ia meminta KLH nggak cuma mendokumentasikan kejadian saat insiden, tapi juga melakukan audit total terhadap sistem keselamatan industri tersebut.

Apakah ini murni masalah teknologi? Human error? Atau justru ada pembiaran soal standar maintenance? Semua kemungkinan itu, kata Shanty, harus dibuka seterang-terangnya ke publik. Transparansi jadi kunci, karena ini menyangkut kepercayaan publik dan yang paling penting: keselamatan nyawa.

Tapi di atas semua itu, ada satu poin yang menurut Shanty paling krusial dan nggak boleh dilupakan: nasib warga sekitar pabrik. Ia menegaskan, tanggung jawab perusahaan tidak otomatis gugur hanya karena asapnya sudah hilang dari udara.

“Paparan bahan kimia itu dampaknya bisa laten. Bisa jadi hari ini kelihatan aman, tapi beberapa tahun ke depan baru terasa efeknya. Karena itu, rehabilitasi kesehatan warga itu harga mati,” ujarnya.

Shanty mendesak agar pemerintah memastikan perusahaan bertanggung jawab penuh, mulai dari pembiayaan pemulihan fisik hingga pendampingan psikologis warga. Ia juga menekankan pentingnya pemantauan medis jangka panjang, khususnya untuk memastikan organ pernapasan warga benar-benar aman dari residu kimia.

Negara harus hadir. Jangan sampai setelah beritanya reda, warganya ditinggal berjuang sendiri. Ini bukan cuma soal hukum, tapi juga tanggung jawab moral,” pungkas Shanty.