Manusiasenayan.id – Kalau ngomongin soal ekonomi kreatif, satu hal yang makin kelihatan jelas: potensi ada, tapi dukungan masih sering setengah hati. Hal ini yang disorot langsung sama Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, saat mampir ke Studio Alam Gamplong di Yogyakarta.
Di lokasi ini, Saraswati melihat sendiri gimana pelaku UMKM kreatif bisa bertahan bahkan berkembang tanpa sokongan dana dari negara. Dan jujur aja, ini jadi ironi. Di satu sisi, potensinya gede banget. Di sisi lain, dukungan pemerintah masih belum maksimal.
“Ini bukti nyata pelaku ekonomi kreatif yang jalan tanpa bantuan negara. Sayang banget kalau nggak didukung,” tegasnya.
Studio Alam Gamplong bukan sekadar tempat syuting film. Tempat ini jadi contoh nyata efek domino alias multiplier effect. Dari film, dampaknya nyebar ke sektor lain—mulai dari kuliner, kriya, sampai pariwisata lokal. Bahkan konsep kayak gini udah lama berkembang di luar negeri, tapi di sini justru lahir dari inisiatif lokal.
Masalahnya bukan cuma soal mulai, tapi soal keberlanjutan. Saraswati menyoroti kalau setelah diresmikan, perhatian ke pengembangan lanjutan masih minim. Padahal yang bikin tempat ini hidup adalah perjuangan masyarakat yang benar-benar dari bawah.
“Kita lihat ini murni dari rakyat untuk rakyat. Tapi sustain-nya masih jadi PR,” lanjutnya.
Dari sisi solusi, ia mendorong pemerintah pusat dan daerah buat lebih peka. Mulai dari bantu promosi, buka akses pembiayaan, sampai benerin infrastruktur. Bahkan jalan menuju lokasi aja masih dikeluhkan pengunjung dan sempat diperbaiki secara swadaya.
Menurut Saraswati, kalau urusan anggaran berat, minimal fasilitas dasar jangan diabaikan. Apalagi ini bukan cuma tempat kreatif, tapi juga punya potensi jadi destinasi wisata yang bisa narik investasi.
Sebagai bagian dari DPR, Komisi VII ditegaskan bakal terus mengawal lewat fungsi pengawasan, legislasi, dan anggaran. Kehadiran mereka ke lapangan diharapkan bukan cuma formalitas, tapi jadi pemicu kebijakan nyata.
Di sisi lain, sutradara Hanung Bramantyo juga ikut angkat suara. Ia mengaku terharu dengan kunjungan ini. Menurutnya, kehadiran DPR jadi momen penting buat nunjukin realita kerja di industri kreatif—yang selama ini mungkin jarang terlihat langsung oleh pembuat kebijakan.
“Sangat mengharukan. Terima kasih sudah datang dan lihat langsung kerja kami,” kata Hanung.
Ia juga cerita kalau Gamplong awalnya cuma buat lokasi syuting. Tapi karena viral, masyarakat mulai datang dan ekonomi warga ikut bergerak. Kuncinya? Kolaborasi dengan desa dan ide kreatif yang konsisten.
Dengan konsep arsitektur era 1800–1950, tempat ini bukan cuma lokasi film, tapi juga pengalaman sejarah yang hidup.
Intinya satu: potensi ekonomi kreatif Indonesia itu real. Tinggal sekarang, mau serius didorong atau terus dibiarkan jalan sendiri?
