Manusiasenayan.id – Isu pelecehan seksual di kampus lagi-lagi naik ke permukaan, dan kali ini Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, nggak mau setengah-setengah. Dia gaspol minta semua kampus di Indonesia berhenti pakai cara lama yang cuma berujung damai-damaian tanpa kejelasan.
Menurut Brian, penyelesaian kasus kayak gini nggak bisa cuma berhenti di mediasi atau sekadar permintaan maaf. Apalagi kalau udah masuk kategori kekerasan atau pelecehan seksual—itu harus diproses serius sesuai aturan. Intinya jelas: korban harus dibela, tapi prosesnya tetap adil dan objektif.
Dia juga nyentil keras kebiasaan kampus yang baru gerak kalau kasusnya udah viral di media sosial. Buat Brian, pola kayak gitu udah harus ditinggalin. Kampus harus punya budaya pencegahan, bukan cuma reaktif pas nama institusi mulai disorot publik.
Nggak cuma pihak kampus, Brian juga ngajak semua elemen—mahasiswa, dosen, sampai organisasi kampus—buat punya kesadaran yang sama. Bahwa lingkungan pendidikan itu harus jadi ruang yang aman, bebas dari pelecehan, perundungan, diskriminasi, dan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat manusia.
Masalahnya, kasus pelecehan di kampus nggak muncul begitu aja. Ada banyak faktor yang jadi akar persoalan. Mulai dari budaya bercanda yang kelewat batas sampai relasi kuasa yang timpang, kayak dosen ke mahasiswa atau senior ke junior. Hal-hal ini yang sering jadi celah terjadinya pelecehan.
Buat itu, Kementerian bakal terus monitoring dan nge-push kampus biar lebih serius. Salah satunya dengan memperkuat Satgas PPKPT di setiap kampus, memastikan kanal pelaporan aman, dan mendorong edukasi soal consent, etika pergaulan, sampai keamanan digital.
Dalam waktu dekat, sorotan publik memang lagi tertuju ke empat kasus yang mencuat. Dua di antaranya soal grup chat mesum di Fakultas Hukum UI dan IPB. Sisanya, kasus pelecehan yang melibatkan guru besar di Unpad dan dosen di Universitas Budi Luhur. Semua ini jadi alarm keras kalau masalahnya nyata dan masih terjadi.
Brian bilang, pihaknya udah koordinasi langsung sama para rektor kampus terkait. Dia minta semua kasus ini ditangani cepat, transparan, dan tetap menjamin perlindungan korban. Nggak ada ruang buat kompromi.
Pesannya simpel tapi tegas: kalau kampus mau dihormati, mereka harus berani tegas. Karena kampus seharusnya bukan cuma tempat belajar, tapi juga tempat yang benar-benar aman buat semua.
