Manusiasenayan.id – Di balik meja rapat yang penuh kata “siap pak”, ternyata masih ada budaya lama di birokrasi yang bikin kerjaan negara jalan di tempat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa blak-blakan ngomong soal kebiasaan buruk aparatur yang kelihatannya nurut di depan atasan, tapi eksekusinya malah hilang entah ke mana.
Dalam acara Simposium PT SMI 2026 di Ayana Midplaza Jakarta, Purbaya cerita kalau fenomena “asal jawab siap” masih sering kejadian di birokrasi. Arahan sudah dikasih, responsnya meyakinkan, tapi setelah itu tugasnya malah mandek berbulan-bulan.
“Di depan bilang siap, tapi nggak dikerjain sampai tiga bulan,” kurang lebih begitu keresahan yang disampaikan Purbaya. Menurutnya, pola kerja kayak gini bukan cuma bikin lambat, tapi juga bikin sistem pemerintahan susah berkembang.
Yang bikin ironis, kata dia, ketika akhirnya posisi mereka digeser atau dicopot, baru muncul drama “nangis-nangis”. Padahal, evaluasi itu muncul karena pekerjaan yang seharusnya dijalankan malah diabaikan terus-menerus.
Purbaya juga bilang kalau mengubah mentalitas birokrasi bukan perkara gampang. Budaya kerja yang sudah mengakar bertahun-tahun nggak bisa dibersihkan cuma lewat satu-dua instruksi. Tapi dia menegaskan proses bersih-bersih birokrasi tetap bakal jalan terus.
Salah satu fokus yang lagi dia dorong adalah memperbaiki penerimaan pajak negara dan menekan masuknya barang ilegal ke pasar domestik. Menurutnya, sistem pengawasan memang mulai membaik, tapi kebocoran masih ditemukan di berbagai titik lapangan.
Dia mengaku masih menemukan celah yang bikin penerimaan negara bocor dan praktik ilegal tetap lolos masuk pasar. Karena itu, pembenahan bakal terus dilakukan sampai sistem pengawasan benar-benar ketat.
Nggak cuma ngomong soal evaluasi, Purbaya juga kasih sinyal keras buat pegawai yang nggak mau ikut ritme perubahan. Pesannya tegas: kalau sudah dikasih tugas tapi tetap nggak jalan, maka harus siap tersingkir dari jabatan.
Sebaliknya, buat pegawai yang kerja serius dan hasilnya nyata, pemerintah bakal kasih penghargaan dan insentif sebagai bentuk apresiasi. Menurut Purbaya, birokrasi ke depan harus diisi orang-orang yang benar-benar kerja, bukan cuma jago bilang “siap” saat rapat.
Di tengah tuntutan publik soal pemerintahan yang lebih bersih dan cepat, pernyataan Purbaya ini jadi tamparan keras buat budaya kerja yang selama ini cuma kuat di omongan, tapi lemah di tindakan.
