Manusiasenayan.id – Di tengah politik nasional yang kadang penuh gimmick dan pencitraan, sosok Ust. H. Zuhri M. Syazali, Lc., M.A. datang dengan gaya yang lebih tenang. Nggak banyak drama, nggak terlalu ribut cari sorotan. Tapi rekam jejaknya di Bangka Belitung bikin namanya tetap diperhitungkan.

Lahir di Jebus, 23 Oktober 1968, Zuhri tumbuh dengan latar belakang pendidikan Islam yang kuat. Alumni Pondok Modern Gontor ini melanjutkan pendidikan ke Universitas Islam Madinah hingga meraih gelar magister. Kombinasi antara pendidikan agama dan pengalaman birokrasi bikin cara pandangnya terhadap politik terasa beda: lebih membumi, tapi tetap punya arah.

Karier politiknya bukan model karbitan yang tiba-tiba viral pas musim pemilu. Tahun 2004, ia dipercaya menjadi Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Setelah itu, kariernya naik jadi Wakil Bupati Bangka Barat periode 2006–2010, lalu menjabat sebagai Bupati Bangka Barat pada 2010–2015.

Dan justru di masa kepemimpinannya sebagai bupati, sederet prestasi mulai bermunculan. Mulai dari penghargaan Adipura Kategori Kota Kecil dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2010, penghargaan Desa Sadar Hukum dari Kemenkumham tahun 2011, sampai penghargaan Adipura dari Presiden RI tahun 2013. Belum lagi penghargaan di bidang koperasi dan perpustakaan nasional yang ikut memperkuat rekam jejaknya sebagai kepala daerah.

Buat sebagian orang, penghargaan mungkin cuma pajangan. Tapi buat masyarakat daerah, itu jadi tanda kalau ada kerja nyata yang benar-benar jalan.

Puncaknya datang di Pemilu 2024. Zuhri berhasil melangkah ke Senayan sebagai wakil daerah di DPD RI untuk Dapil Kepulauan Bangka Belitung periode 2024–2029. Dan kemenangan itu bukan angka kecil. Ia meraih 116.051 suara, angka yang menunjukkan masih kuatnya kepercayaan masyarakat Bangka Belitung terhadap dirinya.

Yang menarik dari sosok Zuhri adalah caranya menjaga kedekatan dengan masyarakat. Di tengah banyak pejabat yang sibuk membangun citra digital, ia justru lebih dikenal lewat pendekatan langsung ke warga. Gaya komunikasinya sederhana, religius, dan terasa dekat dengan kultur masyarakat Bangka Belitung.

Bahkan sampai sekarang, identitasnya sebagai ustadz tetap melekat kuat. Itu sebabnya banyak warga nggak cuma melihatnya sebagai politisi, tapi juga tokoh masyarakat yang punya pendekatan moral dan sosial.

Kini, sebagai Anggota DPD RI Terpilih Periode 2024–2029, tantangan Zuhri tentu makin besar. Tapi dengan pengalaman dari level daerah sampai nasional, banyak masyarakat Bangka Belitung berharap suaranya di Senayan bukan sekadar formalitas.

Karena di tengah politik yang sering terasa jauh dari rakyat, figur yang mau tetap hadir dan mendengar selalu punya tempat sendiri di hati masyarakat.