Manusiasenayan.id – Dunia game yang harusnya jadi tempat have fun, ternyata bisa berubah jadi ruang yang cukup rawan kalau gak diawasi. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) baru saja bongkar temuan serius: platform game populer Roblox diduga dipakai sebagai jalur rekrutmen terorisme yang menyasar anak-anak.

Kepala BNPT, Eddy Hartono, bilang pihaknya bareng aparat berhasil menggagalkan upaya perekrutan terhadap 112 anak. Modusnya? Gak ribet—cukup lewat fitur chat dan voice chat di dalam game.

Menurut Eddy, ini masuk kategori digital grooming—pelaku mendekati korban pelan-pelan, bangun hubungan, lalu masuk lebih dalam. Awalnya keliatan biasa aja: mabar, ngobrol santai, bahkan curhat soal kehidupan. Dari situ, pelaku mulai bangun rasa percaya.

“Anak-anak ngerasa nemu teman yang satu frekuensi. Dari situ empati dibangun,” jelas Eddy.

Nah, setelah hubungan mulai dekat, pelaku gak berhenti di situ. Mereka ngajak korban pindah ke platform lain kayak WhatsApp atau Telegram. Di sinilah fase yang lebih serius dimulai—doktrin mulai disisipkan, pelan tapi pasti.

“Di tahap lanjut, mulai ada normalisasi paham radikal. Ini yang paling bahaya,” tegasnya.

Fakta ini sebenarnya bukan hal baru. BNPT sudah mendeteksi pola ini sejak 2024 dan terus melakukan langkah pencegahan bareng berbagai lembaga. Tapi perkembangan teknologi bikin pola ini makin adaptif dan susah dideteksi kalau gak jeli.

Di sisi lain, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, langsung ambil sikap. Pemerintah sudah minta Roblox buat memperketat fitur komunikasi, terutama interaksi dengan orang asing.

“Ini jadi perhatian utama karena berpotensi disalahgunakan,” ujar Meutya.

Sebagai respons, Roblox mulai menerapkan verifikasi usia dan membatasi fitur chat untuk pengguna di bawah 16 tahun. Tapi pemerintah gak mau setengah-setengah—aturan serupa bakal didorong ke semua platform digital supaya gak ada celah pindah “markas”.

BNPT pun ngasih pesan yang cukup relate buat orang tua: jangan langsung melarang anak main game, tapi pahami risikonya. Literasi digital jadi kunci.

“Yang penting itu pengawasan, bukan sekadar larangan,” tutup Eddy.

Intinya, dunia digital itu luas—dan gak semuanya aman. Jadi, tetap aware, apalagi kalau udah menyangkut anak-anak.