Manusiasenayan.id – Di balik sebotol air minum dalam kemasan yang sering kita beli di minimarket, ternyata ada banyak hal yang perlu diperhatikan. Bukan cuma soal proses produksi, tapi juga bagaimana perusahaan menjaga sumber daya air agar tetap tersedia untuk masyarakat dan lingkungan.
Hal itu yang sedang didalami Panitia Kerja (Panja) Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Komisi VII DPR RI. Dalam kunungan kerja ke PT Akasha Wira International Tbk di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (25/6/2026), Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim atau yang akrab disapa Nunik menjelaskan bahwa pihaknya ingin melihat langsung berbagai aspek industri AMDK, mulai dari proses produksi hingga pengelolaan sumber daya air yang digunakan perusahaan.
Menurut Nunik, kunjungan ini menjadi bagian dari proses pendalaman yang sedang dilakukan Panja AMDK. DPR ingin memahami secara menyeluruh bagaimana industri air minum kemasan beroperasi, termasuk dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Hari ini kita datang ke PT Akasha Wira International karena Panja AMDK sedang berjalan. Kita belajar dan melihat langsung berbagai hal yang berkaitan dengan industri air minum dalam kemasan,” ujar Nunik.
Dari pemaparan manajemen perusahaan, Komisi VII DPR RI mendapat gambaran bahwa PT Akasha tidak hanya memproduksi merek miliknya sendiri, tetapi juga memproduksi berbagai merek lain melalui skema maklon yang menyasar beragam segmen pasar.
Namun, bagi Nunik, ada satu hal yang jauh lebih penting untuk menjadi perhatian bersama, yaitu soal penggunaan air dalam jumlah besar yang harus diimbangi dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Ia menegaskan, semakin besar volume produksi sebuah perusahaan, maka semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan keberlanjutan sumber daya air tetap terjaga. Karena itu, DPR memberikan perhatian khusus terhadap berbagai program konservasi yang dijalankan perusahaan.
Dalam kunjungan tersebut, PT Akasha memaparkan sejumlah langkah yang telah dilakukan, seperti pembangunan sumur resapan, penampungan air hujan, hingga berbagai program yang bertujuan meningkatkan daya serap tanah dan menjaga ketersediaan air di kawasan sekitar pabrik.
Nunik mengapresiasi berbagai langkah tersebut. Meski begitu, ia menilai upaya konservasi masih perlu terus diperkuat agar sebanding dengan jumlah air yang digunakan dalam kegiatan produksi.
Menurutnya, keseimbangan antara pemanfaatan dan pengembalian manfaat bagi lingkungan menjadi kunci agar aktivitas industri tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.
“Kalau air yang digunakan besar, maka upaya konservasinya juga harus besar. Kita berharap rasio antara air yang dipakai untuk produksi dan upaya konservasinya bisa semakin setara,” tegasnya.
Politisi PKB itu juga mengingatkan bahwa berkurangnya ketersediaan air dapat berdampak langsung terhadap banyak sektor. Bukan hanya masyarakat umum, tetapi juga para petani yang sangat bergantung pada keberadaan sumber air untuk aktivitas pertanian.
Selain itu, penggunaan air tanah yang berlebihan berpotensi memicu penurunan permukaan tanah dan berbagai persoalan lingkungan lainnya. Karena itu, ia menegaskan bahwa fokus utama yang harus terus diperkuat adalah kelestarian sumber daya air melalui program konservasi yang berkelanjutan dan terukur.
“Jangan sampai kebutuhan industri justru membuat masyarakat sekitar ikut menanggung kerugian. Karena itu, upaya konservasi harus benar-benar sebanding dengan air yang digunakan,” pungkasnya.
