Manusiasenayan.id – Kabar soal Gajah Sumatera yang tewas secara brutal bikin banyak pihak geram. Seekor satwa yang seharusnya dilindungi justru dibunuh dengan cara keji: sebagian kepala raib, gading hilang, dan nyawanya melayang sia-sia. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, langsung angkat suara dan menegaskan satu hal penting: perlindungan satwa harus naik level, pakai teknologi.
Menurut Alex, pendekatan lama sudah nggak cukup. Di tengah maraknya perburuan liar yang makin rapi dan terorganisir, negara harus hadir dengan cara yang lebih cerdas. Salah satunya lewat pemanfaatan teknologi pelacak untuk memantau pergerakan satwa liar, khususnya yang statusnya sudah dilindungi.
“Sudah saatnya kita pakai teknologi untuk lindungi satwa. Misalnya dengan pemasangan alat pelacak, supaya keberadaan satwa bisa terus dipantau,” tegas Alex. Dengan sistem pemantauan yang real-time, potensi ancaman bisa dideteksi lebih awal sebelum berubah jadi tragedi.
Nggak cuma soal pencegahan, Alex juga mendorong penindakan hukum yang tegas. Ia menilai, pelaku pembunuhan satwa dilindungi tidak boleh lagi diperlakukan lunak. Motif ekonomi yang dibungkus kejahatan lingkungan harus dibalas dengan hukuman yang bikin jera.
“Harus ada tindakan tegas yang benar-benar memberi efek jera. Jangan sampai pembunuhan satwa dilindungi dianggap kejahatan ringan,” ujarnya lugas.
Kasus ini sendiri sudah dipastikan sebagai tindak pembunuhan. Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, menegaskan bahwa gajah tersebut tewas akibat ulah manusia. Pernyataan itu ia sampaikan saat kuliah umum di Universitas Lancang Kuning (Unilak), Pekanbaru.
“Gajah liar itu tewas dibunuh secara sengaja. Ini jelas perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” kata Irjen Herry. Ia memastikan aparat akan mengusut tuntas kasus ini sampai ke akar-akarnya.
Temuan di lapangan memperkuat dugaan tersebut. Pengendali Ekosistem Hutan Ahli BKSDA Riau, drh Rini Deswita, mengungkap adanya serpihan proyektil bersarang di bagian belakang tengkorak gajah. Artinya, satwa tersebut ditembak sebelum akhirnya dimutilasi.
Gajah itu ditemukan tak bernyawa pada Senin (2/2) dalam kondisi mengenaskan. Bagian kepala—mulai dari dahi, mata, hingga belalai—hilang. Kedua gadingnya juga raib, kuat dugaan untuk diperjualbelikan secara ilegal.
Kasus ini jadi alarm keras. Kalau perlindungan satwa masih setengah-setengah, kejahatan serupa bakal terus berulang. Teknologi, hukum tegas, dan pengawasan serius kini bukan lagi pilihan—tapi keharusan.
