Manusiasenayan.id – Di tengah obrolan panjang soal upah, lapangan kerja, sampai masa depan dunia kerja Indonesia, Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI, , datang membawa satu pesan sederhana: buruh, pengusaha, dan pemerintah itu bukan lawan tanding. Mereka justru harus jadi tim.

Dalam sebuah kegiatan yang dihadiri pekerja dan masyarakat, Afriansyah mengingatkan bahwa pembangunan sektor ketenagakerjaan nggak bisa jalan kalau salah satu pihak merasa ditinggal. Logikanya simpel: kalau buruh sejahtera tapi usaha tumbang, ekonomi ikut limbung. Sebaliknya, kalau usaha cuan tapi buruh megap-megap, ujungnya juga nggak sehat.

“Indonesia yang maju membutuhkan buruh yang sejahtera dan dunia usaha yang kuat,” kata Afriansyah.

Jangan ada yang merasa paling benar sendiri di meja ekonomi. Karena kalau buruh dan pengusaha bisa jalan bareng, ekonomi nasional bakal lebih ngebut.

Lewat berbagai program di , pemerintah disebut terus berusaha menata ekosistem ketenagakerjaan agar lebih sehat. Mulai dari peningkatan kualitas tenaga kerja, membuka peluang kerja baru, sampai menjaga hubungan industrial supaya tetap kondusif.

Menurut Afriansyah, dunia kerja sekarang memang sedang menghadapi banyak tantangan. Teknologi berubah cepat, pola kerja juga ikut berubah. Ada yang dulu kerja kantoran sekarang jadi freelancer, ada juga industri baru yang tiba-tiba muncul.

Di situ peran pemerintah, pekerja, dan pengusaha jadi makin penting. Ketiganya harus bisa saling memahami posisi masing-masing.

Buruh butuh perlindungan dan kesejahteraan yang layak. Tapi di sisi lain, dunia usaha juga perlu ruang berkembang supaya bisa terus membuka lapangan kerja.

Kalau dua kepentingan ini bisa ketemu di tengah, hasilnya bukan cuma hubungan industrial yang adem, tapi juga ekonomi yang lebih stabil.

Afriansyah juga mengajak semua elemen ketenagakerjaan untuk memperkuat kolaborasi. Bahasa resminya mungkin sinergi. Tapi kalau di warung kopi, istilahnya lebih sederhana: kerja bareng, jangan saling curiga.

Karena pada akhirnya, pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan lahir dari kesadaran bahwa semua pihak sebenarnya berada di kapal yang sama.

Dan kalau kapal ekonomi Indonesia ini mau melaju kencang, ya semua penumpangnya harus kompak mendayung. Bukan malah sibuk saling nyalahin arah angin.