Manusiasenayan.id – Perkembangan teknologi dan AI sekarang makin ngebut. Tapi menurut Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat, jangan sampai kemajuan digital cuma dinikmati segelintir orang. Buat perempuan yang akrab disapa Rerie itu, penyandang disabilitas juga wajib punya akses yang sama buat belajar, berkembang, bahkan ikut bikin teknologi masa depan.
Hal itu disampaikan Rerie saat hadir di pelatihan AI program EQUAL (Empower Equality AI Initiative) yang digelar Alunjiva Indonesia dan Microsoft di kawasan Cawang Kencana, Jakarta Timur, Senin (25/5/2026). Dalam sambutannya, ia menegaskan kalau literasi digital dan kecerdasan buatan untuk penyandang disabilitas bukan sekadar program biasa, tapi bagian dari amanat konstitusi.
Menurut Rerie, Pembukaan UUD 1945 sudah jelas ngomong soal kewajiban negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan kata “bangsa” di sini, lanjut dia, ya berarti semua warga negara tanpa pengecualian, termasuk penyandang disabilitas.
“Kalau akses teknologi cuma terbuka buat kelompok tertentu, itu artinya kita masih belum benar-benar adil,” kira-kira begitu pesan yang ingin ditegaskan Rerie.
Ia juga mengingatkan kalau bentuk diskriminasi zaman sekarang makin berubah wajah. Dulu mungkin orang lebih gampang lihat gedung tanpa jalur kursi roda atau fasilitas umum yang nggak ramah disabilitas. Tapi hari ini, diskriminasi juga bisa muncul lewat teknologi digital yang nggak aksesibel.
Menurutnya, AI yang nggak inklusif bukan cuma soal sistem yang kurang sempurna. Lebih dari itu, kondisi tersebut bisa mengancam hak dasar warga negara. Karena itu, transformasi digital harus dibarengi transformasi sosial supaya perkembangan teknologi nggak malah bikin jurang ketimpangan baru.
Rerie juga menyoroti pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam pengembangan teknologi. Buat dia, teknologi secanggih apa pun tetap harus menghormati martabat manusia dan menjunjung tinggi prinsip kesetaraan.
Selama ini, kata dia, isu disabilitas terlalu sering dibungkus dengan narasi belas kasihan. Padahal, penyandang disabilitas bukan objek yang cuma dikasih ruang seperlunya. Mereka adalah subjek hak yang harus aktif dilibatkan dalam proses pembangunan, termasuk dalam dunia teknologi dan AI.
Makanya, Rerie menilai penyandang disabilitas jangan cuma dijadikan peserta pelatihan. Mereka juga harus punya kesempatan jadi perancang teknologi, pengembang sistem, sampai penguji aksesibilitas agar teknologi yang lahir benar-benar inklusif.
Ia pun mendorong agar prinsip aksesibilitas diterapkan sejak awal proses desain teknologi, bukan baru dipikirin belakangan setelah produknya jadi.
Di akhir sambutannya, Rerie kasih pesan yang cukup ngena buat peserta pelatihan AI program EQUAL.
“Jangan biarkan masa depan dibentuk tanpa suara kalian. Teknologi harus dibangun bersama seluruh warga bangsa,” tegasnya.
