ManusiaSenayan.id Aceh habis kena banjir bandang dan longsor, eh sekarang dapat “bonus level” yang nggak diminta: krisis air bersih. Iya, air—yang harusnya paling basic—malah jadi sesuatu yang dicari-cari. Rasanya kayak hidup di era modern tapi kerannya main petak umpet. Sopan ya, tapi ini beneran ngeselin.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo ngejelasin penyebab utamanya: sungai-sungai berubah bentuk. Bukan glow up, tapi melebar dan mendangkal sampai bikin sistem pengolahan air keteteran.

Kata beliau, “Karena di di Pidie Jaya memang betul, bukan hanya di Pidie, hampir di semua kabupaten itu sungai-sungainya itu melebar dan mendangkal,” dalam rapat koordinasi pemulihan di Banda Aceh.

Dan ini bukan perubahan kecil-kecilan. Sungainya bisa jadi dua sampai tiga kali lipat dari kondisi normal. Dampaknya? Banyak water treatment plant (WTP) yang posisinya di pinggir sungai jadi ketutup lumpur total—ibarat perangkat penting tapi ketimbun drama.

Dody bilang, “Rata-rata dua sampai tiga kali lipat dari kondisi semula, sehingga banyak kemudian water treatment plant yang selama ini berada memang di tepi-tepi sungai tertutup lumpur semua. Sehingga memang kemudian menyebabkan bapak-ibu sekalian kesulitan air bersih di seluruh kabupaten yang terdampak,”.

Kabar baiknya, pemerintah lagi ngebut biar air bersih bisa balik lagi.

“Kami memang sedang bekerja keras, agar water treatment plant ini bisa kita aktifkan secepat-cepatnya. Banyak sudah kita lakukan penunjukan langsung, karena masih tahap tanggap darurat di beberapa tempat,” ujar Dody.

Targetnya, 3–4 bulan ke depan bakal ada WTP baru kapasitas sekitar 20 liter per detik di beberapa titik. Plus, buat jangka panjang, kondisi sungai dikaji—termasuk opsi bendungan, sabo dam, dan pembersihan material kayu di bendung-bendung supaya aliran lancar lagi.

Intinya: ini masalah serius, bukan sekadar “air lagi error”. Semoga pemulihan Aceh lancar, biar wilayah ini nggak terus-terusan diuji dengan paket cobaan komplit.