ManusiaSenayan.id – Pemerintah Aceh lagi mode gercep. Bukan kirim broadcast di grup keluarga, tapi nyurati dua lembaga PBB, UNDP dan UNICEF, buat minta bantuan pascabanjir dan longsor. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, bilang, “Dalam konteks itu, langkah Pemerintah Provinsi Aceh menyurati UNDP dan UNICEF dapat dipahami sebagai inisiatif untuk mempercepat dukungan bagi masyarakat,” kepada wartawan.
Dia lanjut menegaskan, “Kedua lembaga tersebut memiliki mandat kemanusiaan dan pengalaman panjang dalam membantu wilayah terdampak bencana. Namun penting ditegaskan bahwa setiap upaya kerja sama internasional tetap harus berada dalam kerangka koordinasi pemerintah pusat agar tidak menimbulkan tumpang tindih kewenangan maupun kesalahpahaman diplomatik,”.
Dave juga mengingatkan soal fokus utama dari semua gerakan ini, “Masyarakat Aceh yang terdampak bencana banjir dan longsor harus menjadi prioritas utama dalam setiap langkah penanganan. Komisi I DPR RI menekankan agar seluruh upaya pemerintah pusat, daerah, dan mitra internasional diarahkan untuk memastikan pemulihan kehidupan warga berlangsung secara normal, aman, dan berkelanjutan,”.
Kalau dibikin versi bahasa tongkrongan, kurang lebih gini: Aceh lagi kesusahan, terus manggil “teman lama” yang biasa bantu kalau ada bencana besar. Tapi sebelum jauh melangkah, diingetin dulu, jangan sampai terlihat kayak ngambil langkah sendiri tanpa kabarin pemerintah pusat. Biar nggak kayak anak kos tiba-tiba ngutang ke tetangga padahal orang tua nggak tahu.
Di lapangan, situasinya jelas berat. Banjir dan longsor bikin warga harus ngungsi, sekolah ke-pause, usaha mandek, rumah rusak. Pemerintah daerah nggak mau cuma jadi penonton, makanya mereka gerak cepat gandeng lembaga internasional yang sudah berpengalaman sejak era tsunami 2004.
Relawan dan lembaga kemanusiaan juga sudah banyak yang turun: dari NGO lokal, nasional, sampai internasional. Harapannya, semua pihak bisa kompak, bukan cuma ramai di konferensi pers. Yang paling penting, bantuan beneran nyampe ke warga yang lagi berjuang bangkit, bukan berhenti di tumpukan berkas laporan dan foto seremoni.
