Manusiasenayan.id – Siapa sangka, minyak jelantah yang biasanya cuma jadi limbah dapur sekarang naik kelas jadi bahan bakar pesawat alias avtur. Cerita ini datang dari Semarang dan DIY, di mana ibu-ibu PKK nggak cuma jago urusan rumah, tapi juga ikut ngeracik perubahan buat lingkungan dan energi nasional.

Program ini lagi jadi sorotan karena berhasil mengubah limbah jadi berkah. Minyak jelantah yang dikumpulin dari rumah tangga dikirim ke Kilang Cilacap buat diolah jadi avtur. Hasilnya? Bukan cuma bersih-bersih lingkungan, tapi juga bantu dorong ketahanan energi Indonesia.

Anggota Komisi XII DPR RI, Rokhmat Ardiyan, bilang ini bukan sekadar program biasa. Menurutnya, ini adalah terobosan nyata yang punya dampak ganda: lingkungan lebih aman, ekonomi masyarakat ikut jalan. Apalagi, peran ibu-ibu PKK di sini jadi kunci penting dalam rantai pasoknya.

“Dari yang tadinya dianggap limbah berbahaya, sekarang jadi sesuatu yang punya nilai ekonomi tinggi,” kata Rokhmat usai kunjungan kerja di Yogyakarta.

Yang bikin makin menarik, gerakan ini juga ngebuka peluang cuan di level lokal. Ibu-ibu yang tadinya cuma buang jelantah, sekarang bisa ikut menggerakkan ekonomi sirkular. Jadi bukan cuma soal daur ulang, tapi juga soal peluang baru.

Rokhmat juga nggak lupa ngasih dorongan ke Pertamina buat terus ngebut kinerjanya, terutama dalam menjaga stok BBM dan LPG. Menurutnya, langkah kayak gini harus dibarengin dengan kesiapan energi nasional yang kuat biar Indonesia bisa makin dekat ke target swasembada energi.

Program ini jadi bukti kalau kolaborasi antara masyarakat, BUMN, dan pemerintah itu bukan sekadar jargon. Ketika semua pihak gerak bareng, hasilnya bisa konkret dan terasa langsung. Dari dapur rumah tangga sampai ke langit, minyak jelantah sekarang punya cerita baru yang lebih bernilai dan berdampak.

Intinya, ini bukan cuma soal energi alternatif, tapi juga soal mindset baru: limbah bukan akhir, tapi bisa jadi awal sesuatu yang besar.