Manusiasenayan.id – Kalau lagi ngobrol santai tapi isinya daging, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, lagi nge-push banget satu hal: desa itu bukan pemain kecil. Justru desa punya potensi besar yang nggak dimiliki kota—mulai dari alam sampai hasil budidaya.
Menurut Yandri, kalau potensi itu digarap serius, desa bisa jadi pemasok utama buat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Artinya? Produk desa bisa langsung terserap, warga dapat nilai tambah, dan nggak lagi bergantung sama bantuan luar.
“Banyak program kita, dari desa lele, nila, ayam petelur, sampai jagung. Tinggal bagaimana kepala desa bisa identifikasi potensi yang ada dan dorong warganya fokus budidaya,” kata Yandri saat ketemu Wali Nagari se-Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Intinya simpel: desa harus berani gas produksi sesuai kekuatan masing-masing. Jangan cuma jadi penonton.
Lebih jauh, Yandri juga ngajak desa buat naik level. Nggak cuma jual di pasar lokal, tapi juga tembus pasar nasional bahkan global. Ia bilang, Kemendes sudah banyak bikin terobosan, terutama di sektor pertanian yang berhasil tembus ekspor sampai ke negara tetangga dan Eropa.
Masalah klasik petani juga disorot: capek produksi, tapi cuannya tipis. Kenapa? Karena rantai distribusi kepanjangan, banyak tengkulak.
Solusinya? Program desa ekspor. Lewat program ini, produk bisa langsung dikirim dari desa ke negara tujuan.
“Jadi petani nggak lagi cuma kerja keras, tapi juga bisa nikmatin hasilnya secara maksimal,” tegasnya.
Tapi, Yandri juga ngingetin satu hal penting: semua program ini bakal sia-sia kalau nggak dijaga bareng-bareng. Ia minta pemerintah daerah sampai masyarakat desa benar-benar serius dalam mengelola bantuan.
Menurutnya, bantuan harus dikelola secara transparan, hati-hati, dan penuh tanggung jawab. Jangan sampai dana besar cuma habis sekali panen, lalu programnya mati.
“Percuma kalau program cuma jadi wacana. Kuncinya ada di kita semua, mau jalan bareng atau enggak,” ujarnya.
Ia bahkan bilang, program ini bisa jadi legacy penting bagi kepala daerah dan DPR, asal benar-benar dikawal sampai berhasil.
Sementara itu, Anggota DPR RI dari PAN, Arisal Aziz, menyambut kehadiran Yandri sebagai momentum penting buat menyerap aspirasi warga. Ia juga mendorong para Wali Nagari untuk aktif menyampaikan kebutuhan langsung ke pemerintah pusat.
Di sela kunjungannya, Yandri juga menyempatkan Salat Jumat di Masjid Syekh Burhanuddin dan berziarah ke makam ulama besar penyebar Islam di Minangkabau. Sosok ini dikenal dengan pendekatan dakwah yang lembut dan penuh kearifan budaya.
Dari obrolan ini jelas satu hal: desa itu bukan lagi halaman belakang, tapi bisa jadi mesin ekonomi kalau semua mau gerak bareng.
