Manusiasenayan.id – Kalau lo cari figur daerah yang kariernya naik level tanpa banyak drama, Sultan B. Najamudin adalah salah satunya. Lahir di Anggut/BS, Sultan tumbuh sebagai anak daerah Bengkulu yang pelan tapi pasti menapaki jalur organisasi, bisnis, sampai politik nasional. Sekarang, ia resmi menjabat sebagai Anggota DPD RI periode 2024–2029 dengan Nomor Anggota B-27, mewakili Dapil Bengkulu.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN Gedung Agung (lulus 1990), lanjut ke SMPN Ulu Talo (1993), dan SMAN 3 Manna (1996). Setelah itu, Sultan melanjutkan studi ke Universitas Indonesia dan lulus pada 2005. Ia juga menempuh pendidikan di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dan menyelesaikannya pada 2008. Latar akademiknya ini jadi fondasi kuat sebelum ia terjun lebih dalam ke dunia organisasi dan politik.

Soal organisasi? Jangan ditanya. Jiwa kepemimpinannya sudah kelihatan sejak muda. Ia pernah jadi Ketua OSIS, lalu memimpin HIMAPOL UI pada 2003. Karier organisasinya makin melejit saat dipercaya sebagai Ketua KNPI (2006), kemudian Ketua DPP KNPI (2009). Di dunia pengusaha muda, ia juga pernah memimpin HIPMI (2011). Deretan posisi ketua ini bukan cuma formalitas—itu bukti konsistensi membangun jaringan dan pengaruh dari bawah.

Sebelum full di dunia politik nasional, Sultan juga punya pengalaman sebagai pengusaha dengan jabatan Komisaris sejak 2001. Artinya, ia nggak cuma paham teori, tapi juga praktik ekonomi di lapangan. Tahun 2013, karier politiknya makin serius saat ia menjabat sebagai Wakil Gubernur Bengkulu. Di sinilah namanya makin dikenal sebagai figur muda yang berani ambil tanggung jawab besar.

Langkahnya berlanjut ke Senayan. Pada 2019, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua DPD RI. Posisi ini strategis banget, karena DPD RI punya fungsi memperjuangkan aspirasi daerah di tingkat nasional. Sultan dikenal konsisten menyuarakan isu pembangunan daerah, pemerataan ekonomi, dan penguatan otonomi daerah.

Sebagai pria beragama Islam yang besar dari kultur Bengkulu, Sultan membawa identitas daerahnya dengan bangga. Gaya komunikasinya cenderung tenang tapi tegas. Ia nggak terlalu cari sensasi, tapi fokus kerja dan positioning kebijakan.

Buat anak muda Bengkulu, kisah Sultan B. Najamudin jadi reminder kalau kepemimpinan itu dibangun dari proses panjang: sekolah yang serius, organisasi yang aktif, pengalaman kerja nyata, lalu naik ke panggung nasional. Dari Anggut ke Senayan, jalannya jelas—konsisten, terukur, dan tetap bawa nama daerah.