ManusiaSenayan.id – Di negeri +62 yang katanya cinta anak-anak bangsa, tiba-tiba ada kejadian absurd: empat sekolah di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, dilarang buka pendaftaran siswa baru. Bahkan tiga SD langsung disuruh tutup buku. Alasannya? Karena lahannya katanya nyempil di kawasan konservasi.
Masuklah Wakil Ketua Komisi X DPR, Mbak Esti Wijayati, yang langsung pasang badan. “Rehabilitasi kawasan konservasi memang penting, tapi kebijakan harus komprehensif dan memikirkan kebutuhan semua pihak, termasuk anak-anak dan sekolah,” Kurang lebih gitu nada bicaranya.
Kebijakan ini datang dari Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Tujuannya sih mulia: bersih-bersih lahan di kawasan konservasi. Tapi ya, masa sekolah juga ikut ‘disapu’? Anak-anak jadi korban kebijakan tambal sulam, kayak jalan rusak yang cuma ditambal saat mau ada pejabat lewat.
Esti bilang, rehabilitasi hutan itu penting, tapi jangan sampai pendidikan ikut punah kayak harimau Sumatra. Kalau mau relokasi sekolah, ya jangan asal gusur. Pikirin juga bangunan, guru, akses, dan—yang paling penting—nasib anak-anak yang sekarang bingung harus belajar di mana. Di bawah pohon? Di pinggir sungai?
Katanya negara wajib menjamin pendidikan, tapi kok yang tinggal di wilayah konservasi malah kayak anak tiri? Ironis ya, ketika sekolah dianggap lebih mengganggu daripada kebun sawit ilegal.
Esti juga ngingetin: jangan biarkan kebijakan darurat jadi tameng untuk nutupin borok sistemik. Karena kalau dibiarkan, angka putus sekolah bisa makin naik, dan masa depan anak-anak ini bisa jadi ‘konservasi’ juga—alias punah pelan-pelan.
Jadi, pemerintah tolong deh, jangan hutan diselamatin tapi masa depan anak-anak dibiarkan terbakar.
