ManusiaSenayan.id – Yuk kita kenalan dengan veteran- veteran yang tak pernh kenal lelah untuk mengabdi pada masyarakat.
- Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri (Lahir 16 November 1958; ±66 tahun)
Dulu akademisi dan Menteri Kelautan, kini ia tetap gesit di kursi DPR. Rokhmin duduki kursi DPR RI Komisi IV periode 2024–2029 dari Fraksi PDI Perjuangan.
Kesibukan terkini: Aktif menyoroti isu pangan dan ekspor beras lewat platform media sosial dan DPR.
Jangan salah kira: Meski “senior”, beliau tetap update dan mempertanyakan kebijakan beras nasional—menjadi suara kritis yang tetap relevan dan progresif.
- Dr. Ir. Hj. Endang Setyawati Thohari (Lahir 24 Agustus 1949; ±75 tahun)
Sosok ini benar-benar membuktikan bahwa usia bukan halangan untuk bekerja keras. Sebagai Anggota DPR RI periode 2024–2029, ia duduk di Komisi IV, mewakili Jawa Barat III.
Langsung turun ke rakyat: Pada April 2024, Endang aktif menginisiasi program Pasar Tani Kota Bogor dan membimbing mahasiswa magang untuk melihat langsung upaya ketahanan pangan lokal (Hukum UPNVJ).
Di usianya yang matang, semangatnya tetap menyala—menggerakkan petani lokal dan mendekatkan DPR dengan rakyat “dari bawah.”
- Hj. Fahira Fahmi Idris (Lahir 20 Maret 1968; ±57 tahun)
Sebagai anggota DPD RI dari DKI Jakarta, Fahira kini jalani periode ketiganya (2024–2029), menorehkan total pengalaman legislatif sejak 2014.
Advokasi nyata: Ia aktif sebagai Ketua Umum berbagai organisasi sosial, banjir penghargaan, dan dikenal sebagai aktivis digital yang berpengaruh.
Sosok yang membuktikan: Usia matang bukan berarti menepi—malah semakin produktif dalam memperluas jangkauan perjuangan sosial.
Mengapa Keren di Usia Mereka?
Rokhmin Dahuri (~66)
Aktif di DPR dan tetap vokal soal isu pangan dan ekspor; meyakinkan bahwa “senior” bisa tetap tajam.
Endang Thohari (~75)
Malah turun ke lapangan dan aktif melibatkan generasi muda lewat magang—aksi nyata, bukan wacana.
Fahira Idris (~57)
Peraih suara terbanyak, terus produktif lewat organisasi dan advokasi—justice seeker par excellence.
Ketiganya menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap produktif, peduli, dan gesit—bahkan justru menjadi kekuatan yang mematangkan visi serta kontribusi.
Kecepatan digital memang dominan, tapi ketiga tokoh ini membuktikan: “Senior? Justru itu aset!” Mereka tetap turun ke lapangan, menyuarakan kepentingan rakyat, dan membuktikan kalau semangat berjuang tidak kenal usia—hanya kenal visi yang tajam, hati yang besar, dan aksi yang nyata.
