ManusiaSenayan.id – Macet Jakarta udah kayak playlist wajib tiap pagi sama sore. Jalanan padet, klakson bersahut-sahutan, dan motor selap-selip udah jadi drama harian. Masalahnya? Nggak pernah berubah dari dulu: kendaraan makin banyak, jalan segitu-segitu aja.
Data terbaru bikin kita makin paham kenapa. Dari total 20,2 juta perjalanan per hari, cuma 22,19% doang yang naik transportasi umum. Sisanya? Ya balik lagi ke motor dan mobil pribadi. Nggak heran kalau Jakarta tiap hari berasa kayak parkiran raksasa.
Nah, Achmad Azran, Senator DPD RI asal DKI Jakarta alias Bang Azran, punya pandangan blak-blakan. Menurut dia, kalau beneran pengen Jakarta lebih lega, masyarakat harus berani “move on” dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Tapi dia juga sadar, ngomongnya gampang, prakteknya ribet.
Alasan klasik orang males pindah? Kenyamanan. “Kalau udah biasa naik mobil pribadi, AC dingin, bisa karaokean di jalan, terus disuruh pindah ke bus atau angkot yang seadanya, ya jelas berasa turun kasta,” kata Bang Azran.
Selain itu, ada faktor keamanan. Percuma transportasi umum kalau bikin orang was-was copet atau ngeri fasilitasnya rusak. Azran bilang, kenyamanan dan keamanan ini harus barengan. Kalau salah satunya bolong, jangan harap orang mau ninggalin mobilnya.
Belum lagi soal efisiensi waktu. Banyak warga ngerasa naik transportasi umum malah bikin perjalanan tambah lama. Padahal Pemprov DKI udah berusaha bikin sistem lebih terintegrasi—ada MRT, LRT, TransJakarta, sampai integrasi tiket. Tapi, kata Bang Azran, masyarakat masih merasa “belum cukup.” Makanya, perbaikan harus konsisten, bukan proyek musiman.
Intinya, kalau beneran mau Jakarta nggak macet, transportasi umum harus jadi pilihan utama. Syaratnya jelas: harus nyaman, aman, cepat, dan konsisten. Kalau enggak, ya rakyat bakal tetep pilih mobil pribadi sambil bilang: “Udah lah, macet bareng-bareng aja sekalian.”
