ManusiaSenayan.id Kalau kita ngomongin masa depan Indonesia, ujung-ujungnya pasti balik ke satu hal: SDM. Mau ekonomi ngebut, teknologi maju, atau negara makin sejahtera—kalau manusianya belum siap, ya susah. Nah, di titik ini nama Ranny Fahd Arafiq muncul sebagai salah satu politisi muda yang cukup konsisten bawa tema itu di Senayan.

Ranny adalah anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Partai Golkar, mewakili Dapil Jawa Barat VI (Depok–Kota Bekasi). Di Pileg 2024 dia meraih 177.508 suara, dan resmi duduk di parlemen lewat Fraksi Golkar.

Ranny duduk di Komisi IX, tempat isu-isu “realitas hidup” dibahas: ketenagakerjaan, kesehatan, dan kependudukan. Jadi bukan komisi yang isinya debat abstrak doang, tapi yang ngurus hal-hal yang langsung nyentuh dompet dan masa depan orang banyak. Dari awal, benang merah kerjaannya jelas: kalau SDM naik kelas, Indonesia ikut naik kelas. Tema itu bukan slogan kosong; kelihatan dari jalur isu yang dia pilih dan cara dia ngejar outputnya.

Di urusan kerja, Ranny punya satu keresahan simpel tapi relate: banyak anak muda punya potensi, tapi kehalang skill yang belum match sama industri. Makanya dia dorong dua hal barengan—pelatihan vokasi yang merata dan sertifikasi kompetensi yang dipercepat. Dalam rapat Komisi IX bareng Kemenaker dan BNSP, dia menekankan pentingnya balai latihan kerja yang aksesnya nggak timpang serta sistem sertifikasi yang lebih ngebut dan relevan. Buat Ranny, skill itu kayak “passport” buat masa depan; kalau negara nggak bantu nyiapin, kita bakal kalah start sama negara lain.

Masih nyambung soal kerja, Ranny juga mendorong percepatan RUU Ketenagakerjaan (perubahan ketiga UU 13/2003). Intinya dia pengin aturan tenaga kerja yang lebih adaptif sama dunia kerja sekarang—yang udah serba digital, serba cepat, dan penuh model kerja baru. Perspektifnya cukup tegas: perlindungan pekerja harus naik level, tapi iklim usaha juga nggak boleh dihajar sampai ambyar. Jadi dia main di titik tengah: pro-pekerja sekaligus pro-masa-depan ekonomi.

Lalu ada isu yang sering luput dari radar anak muda kota: pekerja migran Indonesia (PMI). Ranny termasuk yang vokal soal ini. Dia mendorong penguatan Panja Pengawasan Perlindungan PMI supaya negara hadir dari hulu ke hilir: mulai dari perekrutan yang aman, perlindungan saat kerja di luar negeri, sampai reintegrasi setelah pulang. Buat dia, PMI bukan cuma “pahlawan devisa” versi poster, tapi orang beneran yang punya keluarga dan masa depan yang harus dijamin.

Di sisi kesehatan dan SDM jangka panjang, Ranny konsisten bawa narasi: gizi itu fondasi produktivitas. Makanya dia aktif mengawal dan sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dia nyebut MBG sebagai investasi mutu manusia, bukan sekadar bagi-bagi makanan. Bahkan ketika Badan Gizi Nasional ngajukan tambahan anggaran besar untuk perluasan MBG, Ranny mendukungnya dengan argumen stunting itu “biaya mahal yang harus dipotong dari awal.”

Menariknya, Ranny nggak berhenti di level wacana nasional. Di dapil Depok–Bekasi, dia rutin turun ke komunitas, sekolah, dan forum warga buat ngobrol soal kerja, gizi, dan keluarga. Gaya komunikasinya juga nggak ribet—lebih kayak kakak tingkat yang ngajak mikir bareng daripada politisi yang suka nguliahin. Dari beberapa liputan kegiatan dapil, dia sering tekankan partisipasi warga sebagai kunci: kebijakan bagus pun bakal zonk kalau rakyatnya nggak diajak jalan bareng.

Jadi kalau dirangkum, “Upgrade SDM, Upgrade Indonesia” versi Ranny itu paket lengkap:
skill pekerja ditingkatkan, aturan kerja diperbarui, PMI dilindungi, gizi anak diperkuat. Semua itu ujungnya satu: bikin manusia Indonesia lebih siap bersaing, hidup lebih sehat, dan punya masa depan yang nggak cuma jadi slogan.

Ranny mungkin bukan tipe politisi yang paling heboh di timeline, tapi arah kerjanya jelas dan relevan buat Gen Z: masa depan itu dibangun dari kualitas manusia—dan kualitas manusia nggak tumbuh dari omong doang, tapi dari sistem yang bener.