ManusiaSenayan.id – Di umur ketika banyak orang masih galau milih: kerja, lanjut kuliah, atau pindah kota, Andiara Aprilia Hikmat udah tiga kali berturut-turut duduk di kursi DPD RI. Dari 2014, lanjut 2019, tembus lagi 2024, namanya konsisten nongol sebagai salah satu wajah Banten di Senayan. Bukan cuma awet, dia juga jadi sedikit dari senator perempuan yang bisa ngamanin tiga periode.
Buat sebagian orang, Andiara keliatan kayak contoh kalau perempuan muda bisa tembus politik nasional. Buat yang lain, dia tetep kebayang sebagai bagian dari dinasti politik Banten. Dua image ini jalan barengan dan nggak pernah jauh-jauh dari cerita soal dirinya.
Lahir di Keluarga Politik, Tumbuh di Tengah Kekuasaan
Andiara lahir di Bandung, 22 April 1987. Dari kecil, lingkungan sekitarnya tuh literally penuh politik. Ibunya, Ratu Atut Chosiyah, mantan Gubernur Banten. Ayahnya, Hikmat Tomet, politisi juga. Kakaknya, Andika Hazrumy, pernah jadi Wakil Gubernur Banten.
Jadi kalau ada yang nanya, “Dia mulai dari nol nggak sih?” Jawabannya: enggak. Panggungnya udah kebuka dari awal. Tantangannya beda: bukan gimana caranya masuk, tapi gimana caranya bertahan dan nunjukin kalau dia punya warna sendiri, bukan cuma “anakan dari siapa”.
Sekolah dia jalani di Bandung dan Serang. Uniknya, gelar S1 Ilmu Komunikasi di STIKOM Banten justru dia selesain pas udah jadi senator. Kuliah sambil kerja di Senayan. Vibes-nya mirip anak muda sekarang yang kerja sambil kuliah, aktif organisasi sambil ngejar karier—cuma bedanya, panggung kerjanya level nasional.
Dari Organisasi, Sampai Nyemplung ke Senayan
Sebelum dikenal luas sebagai senator, Andiara udah duluan wara-wiri di dunia manajemen dan organisasi. Dia sempat jadi komisaris di Hotel Ratu Bidakara, dan aktif di BKOW Banten, P2TP2A, PMI, sampai PKK Pandeglang.
Artinya, dia nggak jatuh dari langit langsung ke Senayan. Ada proses ikut ngurus organisasi, ketemu warga, dan main di area sosial-kemanusiaan. Tetep, orang nggak bisa pura-pura lupa kalau dia punya privilege keluarga politik yang gede banget. Tapi di sisi lain, ya dia juga kelihatan effort buat punya track record sendiri.
Tiga Kali Menang, Tiga Kali Bawa Nama Banten
Pemilu 2014 jadi momen pertama Andiara masuk DPD RI dari dapil Banten. Di 2019, dia kepilih lagi. 2024, dia nge-hat-trick. Tiga periode bukan hal receh, apalagi di tengah pemilih yang makin mudah pindah pilihan. Itu tandanya namanya masih cukup nyantol di kepala warga Banten.
Di Senayan, dia nggak cuma jadi “penggugur kuorum”. Andiara sempat jadi Ketua Komite I DPD RI — ini komite yang ngurus hal-hal berat tapi krusial: otonomi daerah, hubungan pusat–daerah, sampai urusan penjabat kepala daerah. Dari posisi ini, keputusan yang dia ikut bahas langsung ngefek ke daerah-daerah, termasuk Banten sendiri.
Kontribusi: Dari Urusan Lahan Sampai Birokrasi Daerah
Sebagai pimpinan Komite I, Andiara sering nyemplung di isu-isu yang bikin hidup warga daerah bisa lebih gampang atau makin ribet.
Salah satu yang sering nongol adalah soal tata ruang dan konflik lahan. Komite I bareng Kementerian ATR/BPN ngebahas tumpang tindih tata ruang, sengketa tanah, sampai isu yang sering dikaitin sama mafia tanah. Di sini, Andiara dorong penataan ruang yang nggak cuma mikirin investor dan proyek gede, tapi juga hak warga yang tanahnya bisa tiba-tiba kena garis kebijakan.
Di sisi lain, dia juga ikut ribut di tema reformasi birokrasi bareng Kementerian PANRB. Topiknya mulai dari pengalihan jabatan struktural ke fungsional sampai nasib tenaga non-ASN di daerah. Intinya, jangan sampai kebijakan yang kelihatannya keren di dokumen malah bikin aparatur di bawah bingung, insecure, dan ujungnya pelayanan ke masyarakat jadi amburadul.
Di banyak kesempatan, Andiara nge-push narasi soal bonus demografi dan peran anak muda. Dia sering bilang kalau generasi muda dan para sarjana bukan figuran, tapi partner penting buat ngejaga keadilan sosial. Cara ngomongnya mencoba lebih relate ke Gen Z dan milenial—lebih santai, nggak kaku-kaku banget, sambil ngajak mereka buat nggak alergi sama politik.
Perempuan, Dinasti, dan Taruhan di Periode Ketiga
Tetap aja, sekuat apa pun narasi soal perempuan dan anak muda, nama Andiara nggak bisa lepas dari bayang-bayang dinasti politik Banten. Itu yang sering jadi bahan diskusi dan sindiran, terutama di kalangan aktivis dan pemilih muda yang mulai kritis.
Pertanyaannya simpel tapi nusuk:
ini hasil kerja personal atau hasil jaringan keluarga?
Dan sehat nggak sih, banyak posisi publik di satu daerah dipegang lingkaran keluarga yang mirip-mirip?
Dari kacamata Gen Z yang makin melek isu demokrasi, wajar kalau Andiara dibaca dua arah:
di satu sisi, bukti kalau perempuan muda bisa survive di politik nasional.
di sisi lain, simbol kuatnya politik kekerabatan yang bikin orang kadang capek duluan.
Sekarang, di periode ketiganya, taruhannya makin gede. Bukan lagi sekadar bisa menang, tapi mau ninggalin jejak kayak apa.
Sebagai senator perempuan tiga periode dari Banten, nama Andiara Aprilia Hikmat udah kejilat tinta sejarah politik nasional. Tinggal kita lihat: ke depan, dia bakal lebih diingat sebagai bagian dari dinasti, atau sebagai perempuan Banten yang bener-bener gaspol pakai privilagenya buat ngebela rakyat yang dia wakilin.
