Manusiasenayan.id – Di politik Indonesia, ada satu keahlian yang lebih langka dari kejujuran: konsistensi. Banyak yang jago pidato soal integritas, tapi begitu kamera mati, kaki kiri sama kanan jalan ke arah beda. Nah, di tengah pemandangan kayak gitu, nama Arief Rosyid Hasan muncul agak “ganggu”—karena dia nggak ikut-ikutan zig-zag.

Sejak zaman masih mahasiswa, Arief sudah milih satu jalur: aktif, ribut soal gagasan, dan kelihatan kerjanya. Waktu dipercaya jadi Ketua Umum PB HMI (2013–2015), dia bukan tipe ketua yang sibuk cari aman ke semua kubu. Organisasi jalan, posisi jelas, sikap kelihatan. Nggak semua orang betah di mode ini—karena konsistensi biasanya bikin cepat punya lawan.

Lanjut ke dunia yang katanya “dewasa”, Arief bukannya melempem. Dari isu kesehatan masyarakat sampai kebijakan publik, dia masuk dengan modal data, bukan cuma caption. Pendidikan doktoralnya bukan buat gaya-gayaan gelar, tapi jadi amunisi kalau debat. Di saat banyak tokoh muda alergi sama angka, Arief malah nyaman main di sana.

Lucunya, saat banyak yang teriak anti-elite tapi diam-diam pengin kursi empuk, Arief justru dapat kepercayaan duduk sebagai Komisaris Independen Bank Syariah Indonesia (BSI). Ini bukan hadiah giveaway. Dunia perbankan itu ribet, ketat, dan penuh audit. Kalau rekam jejak lo abu-abu, biasanya pintu keburu ditutup sebelum lo sempat salam.

Masuk ke politik praktis? Dia nggak setengah-setengah. Dari TKN 2019 sampai peran Komandan Pemilih Muda di 2024, Arief main terbuka. Nggak pakai jurus klasik: “di sini iya, di sana juga iya.” Pilihannya jelas, risikonya ditanggung sendiri. Di dunia politik, ini termasuk aksi nekat—karena netral palsu sering terasa lebih aman.

Yang bikin agak nyentil: Arief berkali-kali ngomong pemuda bukan properti kampanye musiman. Ironis, karena justru banyak yang hidupnya bergantung sama musim itu. Tapi dia konsisten dorong anak muda jadi pelaku, bukan penonton. Bikin ruang, forum, gerakan—bukan cuma hashtag.

Jadi kalau hari ini ada yang bingung nyari contoh tokoh muda yang produktif, jelas sikap, dan nggak main dua kaki, Arief Rosyid Hasan bisa jadi jawaban yang agak bikin tidak nyaman.

Karena di politik, orang kayak gini biasanya bukan yang paling ramai dipuji, tapi paling susah dibantah rekam jejaknya. Dan di zaman semua orang pengin aman, konsisten itu ternyata bentuk kenekatan paling mahal.